First Indonesia Magazine– Banjir dan badai melanda sejumlah wilayah di India, Nepal, dan Thailand dalam beberapa hari terakhir. Bencana akibat hujan deras tersebut menewaskan puluhan orang dan memaksa ribuan warga mengungsi.

Di India, sedikitnya 56 orang meninggal dunia akibat banjir dan longsor di negara bagian Uttar Pradesh. Hujan yang mengguyur wilayah tersebut mencapai 66,5 milimeter pada 25 September hingga pagi 27 September, jauh di atas rata-rata normal 7,6 milimeter untuk periode yang sama.

Lebih dari 1.000 rumah dilaporkan rusak. Sejumlah sungai besar, termasuk Gangga, Gandak, Kosi, Bagmati, dan Narmada, juga berada di atas level bahaya. Tim penyelamat masih melakukan evakuasi dan menyalurkan bantuan kepada warga terdampak.

Sementara itu, Nepal melaporkan 14 orang meninggal dunia dan 11 lainnya masih hilang. Pemerintah mengeluarkan peringatan potensi banjir bandang di 49 dari 77 distrik karena debit sejumlah sungai terus meningkat.

Dikutip dari Reuters, bencana tersebut terjadi hanya sekitar sebulan setelah banjir besar dan longsor pada Agustus yang menewaskan lebih dari 1.450 orang. Infrastruktur di sejumlah wilayah Nepal kembali terdampak, termasuk jaringan listrik, telekomunikasi, dan fasilitas pembangkit listrik tenaga air.

Di Thailand, banjir yang terjadi sejak 16 September juga menimbulkan korban jiwa. Reuters melaporkan sedikitnya 23 orang meninggal dunia, sementara banjir melanda 42 provinsi.

Bangkok menjadi salah satu wilayah yang terdampak parah setelah hujan mencapai sekitar 320 milimeter dalam tiga hari. Kondisi tersebut mengganggu aktivitas warga dan operasional Bandara Suvarnabhumi. Thai Airways bahkan memangkas sejumlah penerbangan akibat banyak karyawannya tidak dapat bekerja.

Pemerintah Thailand telah menyiapkan bantuan lebih dari 4 miliar baht atau sekitar US$119 juta untuk menangani dampak banjir. Pemerintah juga menyetujui proyek sistem drainase jangka panjang senilai 160 miliar baht untuk meningkatkan perlindungan terhadap banjir di Bangkok dan wilayah sekitarnya.

Serangkaian bencana tersebut kembali menyoroti meningkatnya risiko cuaca ekstrem di kawasan Asia. Reuters juga mengutip pandangan pakar lingkungan yang mengaitkan perubahan iklim, pencairan gletser, dan perubahan kondisi lingkungan dengan meningkatnya ancaman bencana di sejumlah wilayah. *** (da)/ (Sumber Foto: Reuters)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here