FirstIndonesiaMagz.id– Banjir melanda empat kabupaten di Jawa Tengah, yakni Tegal, Pemalang, Magelang, dan Purworejo, pada Sabtu (20/12). Peristiwa tersebut sempat merendam kawasan wisata dan permukiman warga. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam rangkaian kejadian tersebut.
Di Kabupaten Tegal, banjir bandang menerjang kawasan wisata Pemandian Air Panas Guci, Kecamatan Bumijawa, sekitar pukul 13.30 WIB. Luapan Sungai Gung yang melintasi area wisata menyebabkan kerusakan di Pancuran 13 dan Pancuran 5 Sendang Sari. Material berupa lumpur, pasir, dan bebatuan menutupi area pemandian setelah banjir surut.
Beruntung, saat kejadian berlangsung, kedua lokasi pemandian tersebut dalam kondisi steril dari pengunjung maupun pedagang. Petugas BPBD Kabupaten Tegal juga telah melakukan penelusuran dari hulu hingga hilir sungai untuk memetakan dampak banjir. Hasilnya, tidak ditemukan korban luka maupun korban jiwa.
Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman langsung meninjau lokasi terdampak pada Sabtu malam. Ia memastikan kondisi sungai telah kembali normal setelah banjir berlangsung sekitar tiga jam akibat curah hujan tinggi.
“Beberapa pipa penyalur air panas ke vila-vila sempat terbawa arus. Kami sudah berkoordinasi untuk segera melakukan perbaikan agar wisatawan bisa kembali menikmati pemandian air panas,” ujar Ischak dalam keterangannya, Minggu (21/12).
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tegal M Afifudin menjelaskan, hujan di kawasan Guci sebenarnya berintensitas sedang. Curah hujan tinggi justru terjadi di wilayah hulu Sungai Gung, tepatnya di kawasan Gunung Slamet.
Menurut Afifudin, dampak banjir bandang hanya terbatas di sekitar Pancuran 13 dan Pancuran 5. Area pemandian lain dinyatakan aman dan jalur transportasi menuju kawasan wisata Guci tidak terganggu. Wisatawan pun masih dapat berkunjung ke lokasi tersebut.
Pada Minggu, pengelola wisata bersama petugas gabungan, relawan, dan warga setempat melakukan kerja bakti untuk membersihkan sisa material banjir serta memperbaiki pipa-pipa air panas yang rusak.
Di Kabupaten Pemalang, banjir terjadi di Desa Belik, Kecamatan Belik, sekitar pukul 15.30 WIB akibat meluapnya Sungai Rejasa setelah hujan deras di daerah hulu. Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Jawa Tengah Muhammad Chomsul menyebutkan, banjir sempat merendam permukiman warga, namun air surut pada pukul 17.20 WIB.
“Tidak ada korban jiwa. Kerusakan hanya terjadi pada sayap jembatan dengan estimasi kerugian sekitar Rp7 juta,” jelas Chomsul.
Banjir juga melanda Kabupaten Magelang, tepatnya di Dusun Semawang, Desa Balerejo, Kecamatan Kaliangkrik, sekitar pukul 17.15 WIB. Peristiwa tersebut dipicu oleh luapan saluran irigasi akibat hujan lebat. Tidak ada korban jiwa, namun satu rumah warga mengalami kerusakan ringan. Warga bersama petugas melakukan kerja bakti pada Minggu pagi untuk membersihkan material banjir dan memperbaiki saluran irigasi.
Sementara di Kabupaten Purworejo, banjir merendam empat desa di dua kecamatan, yakni Desa Samping dan Kroyo Lor (Kecamatan Kemiri) serta Desa Kesawen dan Ngampel (Kecamatan Pituruh). Luapan Sungai Tapen dan Sungai Padusan menyebabkan sekitar 100 rumah yang dihuni kurang lebih 200 jiwa terendam dengan ketinggian air sekitar 10 sentimeter.
Chomsul menyampaikan, banjir di Desa Kesawen dan Samping telah surut pada Sabtu malam. Namun, genangan masih terlihat di Desa Kroyo Lor dan Ngampel hingga Minggu pagi, terutama di pekarangan rumah, area persawahan, dan ruas jalan Kemiri–Pituruh.
BPBD Jawa Tengah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Pasalnya, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi hingga Senin (22/12) di sejumlah wilayah, termasuk Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Jepara, serta wilayah selatan dan tengah Jawa Tengah lainnya.

































