FirstIndonesiaMagz.id– CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani, angkat bicara mengenai pelemahan IHSG yang terus terjadi sepanjang tahun ini. Bahkan, kinerja IHSG disebut menjadi salah satu yang terburuk dibandingkan pasar saham global lainnya.
Meski demikian, Rosan menegaskan Danantara tetap memandang pasar modal Indonesia dari perspektif jangka panjang. Ia menilai fundamental perusahaan-perusahaan BUMN masih solid dengan pertumbuhan bisnis yang tetap mencatatkan angka dua digit.
Saat menghadiri kunjungan ke Bursa Efek Indonesia pada Selasa (19/5), Rosan mengatakan berbagai upaya pembenahan yang dilakukan BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan diyakini akan memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal nasional.
Menurutnya, peningkatan transparansi dan penyempurnaan sistem perdagangan menjadi langkah penting agar bursa Indonesia semakin kompetitif dan dipercaya oleh pelaku pasar.
Rosan juga menyoroti valuasi saham-saham BUMN yang saat ini dinilai menarik. Berdasarkan pengamatannya, sejumlah emiten pelat merah mampu menawarkan imbal hasil atau yield dividen di kisaran 10 hingga 11 persen untuk investasi jangka menengah hingga panjang.
Yield sendiri merupakan rasio yang menggambarkan besaran dividen dibandingkan harga saham yang diperdagangkan di pasar.
Ia menilai fluktuasi pasar dalam jangka pendek merupakan hal yang wajar. Namun, fokus utama Danantara bukan pada pergerakan harian maupun bulanan IHSG, melainkan pada potensi pertumbuhan jangka panjang pasar modal Indonesia.
Rosan optimistis pasar saham domestik masih memiliki prospek yang positif seiring pertumbuhan jumlah investor yang terus meningkat. Saat ini, jumlah investor pasar modal Indonesia disebut telah mencapai sekitar 27 juta investor, naik signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Menurutnya, kondisi fundamental ekonomi yang tetap kuat serta tingkat yield yang tinggi menjadi faktor penting yang perlu dipahami investor di tengah volatilitas pasar.
“Pasar saham memang selalu mengalami naik turun. Namun, yang kami lihat adalah fundamental perusahaan tetap baik dan potensi imbal hasilnya masih menarik untuk jangka panjang,” ujar Rosan.





























