FirstIndonesiaMagz.id– Gelombang demonstrasi besar-besaran di Iran yang berlangsung sejak akhir Desember 2025 terus meningkat dan berubah menjadi krisis kemanusiaan serius. Aksi protes yang semula dipicu oleh krisis ekonomi kini berkembang menjadi gerakan nasional yang menuntut perubahan rezim terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Bentrok antara massa dan aparat keamanan terjadi hampir setiap hari di berbagai wilayah. Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), melaporkan jumlah korban tewas telah melonjak tajam.
HRANA mencatat sedikitnya 2.403 orang meninggal dunia per Selasa (13/1), termasuk anak-anak di bawah usia 18 tahun. Angka ini meningkat signifikan dari laporan sebelumnya yang menyebut 1.850 korban tewas. Selain itu, tercatat 10.721 orang ditangkap hingga hari ke-16 aksi, serta terjadi pemadaman internet lebih dari 100 jam di sejumlah wilayah.
Protes kini telah menyebar ke lebih dari 100 kota dan desa di berbagai provinsi. Sejumlah laporan menyebut massa membakar gedung-gedung pemerintah dan masjid, serta merobek bendera nasional sebagai bentuk perlawanan.
Situasi paling mencekam dilaporkan terjadi di Kota Rasht. Rumah Sakit Poursina disebut kewalahan menangani puluhan korban. Mengutip International Business Times, BBC Persia memverifikasi bahwa sedikitnya 70 jenazah dibawa ke rumah sakit tersebut dalam satu malam. Kamar mayat penuh hingga jenazah terpaksa diletakkan di ruang salat.
Pemerintah Iran menuding kekacauan dipicu oleh “teroris” dan campur tangan asing. Otoritas setempat menuduh Amerika Serikat dan Israel mendukung kelompok bersenjata di balik kerusuhan. Seorang pejabat Iran yang enggan disebutkan namanya mengakui sekitar 2.000 orang tewas, sebagian besar akibat tindakan keras aparat keamanan.
Namun, data terbaru HRANA yang dirilis Rabu (14/1) menyebut total korban meningkat menjadi 2.571 orang, termasuk 147 individu yang berafiliasi dengan pemerintah serta 12 anak.
Korban jiwa dilaporkan berasal dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dan seorang wasit sepak bola. BBC Indonesia melaporkan hampir 500 demonstran dan 48 personel keamanan tewas dalam dua pekan terakhir.
Demonstrasi yang bermula dari lonjakan inflasi dan anjloknya nilai mata uang rial di kawasan Grand Bazaar Teheran kini telah menjelma menjadi gerakan anti-pemerintah berskala nasional, menandai salah satu periode paling berdarah dalam sejarah protes modern Iran.





























