Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500 Terkendala Cuaca Ekstrem di Gunung Bulusaraung
Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500 Terkendala Cuaca Ekstrem di Gunung Bulusaraung

FirstIndonesiaMagz.id– Proses evakuasi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, masih menghadapi tantangan besar akibat cuaca ekstrem dan medan terjal. Hingga Selasa (20/1) pagi, tim SAR gabungan terus berupaya menembus lereng gunung untuk mengevakuasi korban dan menelusuri area yang diduga menjadi lokasi utama jatuhnya pesawat.

Sejak pagi hari di Posko Utama SAR di Desa Tompobulu, hujan deras disertai angin kencang dan kabut tebal menyelimuti kawasan pencarian. Kondisi tersebut membatasi jarak pandang dan meningkatkan risiko bagi personel di lapangan. Meski demikian, ratusan personel dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan unsur relawan tetap melanjutkan operasi dengan mengedepankan prosedur keselamatan.

Pada hari keempat operasi, tim memprioritaskan upaya evakuasi dua korban yang sebelumnya telah ditemukan di sekitar lereng Gunung Bulusaraung. Lokasi penemuan berada di area curam dengan kedalaman ratusan meter, sehingga evakuasi harus dilakukan menggunakan teknik penyelamatan vertikal dan peralatan tali. Selain evakuasi, tim juga memperluas pencarian untuk menemukan delapan korban lainnya yang masih dinyatakan hilang.

Proses penjangkauan menuju titik lokasi membutuhkan waktu berjam-jam melalui jalur terjal, berbatu, dan licin. Tim harus membuka jalur baru, membawa perlengkapan evakuasi, serta menuruni tebing dengan metode rappelling. Di beberapa titik, kabut tebal memaksa penghentian sementara aktivitas demi menghindari risiko kecelakaan.

Pada hari ketiga operasi, tim SAR gabungan berhasil mengidentifikasi dan mengamankan sejumlah barang yang diduga kuat milik penumpang dan awak pesawat, seperti potongan pakaian, dokumen, identitas, dan perlengkapan pribadi. Temuan tersebut dikumpulkan di posko untuk proses pendataan dan penanganan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Namun, hingga saat ini, proses evakuasi korban belum dapat dilakukan secara optimal. Cuaca buruk yang berlangsung hampir sepanjang hari, disertai hujan lebat dan angin kencang di sekitar puncak, membuat helikopter belum bisa dimaksimalkan. Evakuasi masih bergantung pada jalur darat dengan sistem naik-turun tebing, yang membutuhkan perhitungan waktu dan tenaga lebih besar.

Di sisi lain, warga setempat turut mendukung proses evakuasi dengan menyediakan tempat transit bagi petugas serta membantu mengamankan barang-barang yang ditemukan di sekitar permukiman dan area persawahan. Seluruh temuan diserahkan kepada petugas untuk kepentingan identifikasi dan investigasi.

Operasi SAR di Gunung Bulusaraung terus dilanjutkan dengan fokus pada evakuasi korban yang telah ditemukan serta penyisiran lanjutan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Tim SAR gabungan menegaskan bahwa keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama di tengah kondisi alam yang belum bersahabat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here