FirstIndonesiaMagz.id– Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan signifikan pada awal Maret 2026 seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Penguatan harga ini dipicu oleh eskalasi konflik yang melibatkan Iran, sehingga memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar terkait kemungkinan terganggunya pasokan energi global dari wilayah produsen utama tersebut.
Merujuk laporan Reuters pada 1 Maret 2026, harga minyak global tercatat melonjak sekitar 10 persen dalam sesi perdagangan terbaru. Peningkatan ini terjadi akibat aksi beli yang meningkat, didorong oleh kekhawatiran bahwa konflik yang semakin meluas dapat menghambat distribusi minyak mentah. Kenaikan terlihat pada dua acuan utama, yakni Brent dan West Texas Intermediate (WTI), yang sama-sama mencatat penguatan tajam dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Fokus perhatian pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Setiap potensi gangguan di jalur tersebut, baik akibat ketegangan militer maupun risiko keamanan, dapat langsung memengaruhi keseimbangan pasokan global. Kondisi ini membuat harga minyak sangat responsif terhadap dinamika geopolitik di kawasan tersebut.
Sejumlah analis memproyeksikan, apabila konflik terus berlanjut tanpa adanya deeskalasi, harga minyak berpeluang menembus level US$100 per barel. Prediksi ini didasarkan pada pola historis ketika gangguan pasokan dari Timur Tengah mendorong lonjakan harga dalam waktu singkat. Ketidakpastian yang tinggi juga membuat investor cenderung bersikap lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Dampak kenaikan harga minyak tidak hanya dirasakan di pasar komoditas, tetapi juga berimbas pada aktivitas bisnis global. Peningkatan biaya energi dapat mendorong naiknya ongkos produksi, distribusi, serta transportasi di berbagai sektor industri. Selain itu, lonjakan harga bahan bakar berpotensi memicu tekanan inflasi, khususnya di negara-negara yang bergantung pada impor minyak.
Situasi tersebut menegaskan bahwa perkembangan geopolitik di Timur Tengah memiliki konsekuensi luas terhadap stabilitas ekonomi dunia. Fluktuasi harga energi yang tajam dapat mempengaruhi kebijakan fiskal dan moneter, nilai tukar, hingga strategi bisnis perusahaan yang bergantung pada pasokan energi. (Khalda Iffa Damayanti)


































