Helmy Yahya: CSR Harus Bertransformasi dari Charity ke Strategi Bisnis Berkelanjutan
Helmy Yahya: CSR Harus Bertransformasi dari Charity ke Strategi Bisnis Berkelanjutan

FirstIndonesiaMagz.id, Bandung – Keynote Speaker Indonesia CSR Excellence Award (ICEA) 2025, Helmy Yahya, menegaskan bahwa praktik Corporate Social Responsibility (CSR) saat ini telah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan. CSR tidak lagi dipandang sebagai aktivitas filantropi atau kewajiban moral semata, melainkan sebagai bagian dari strategi bisnis inti yang berorientasi pada keberlanjutan dan penciptaan nilai jangka panjang.

Dalam paparannya di hadapan peserta ICEA 2025 yang berlangsung di eL Hotel, Bandung, Helmy menjelaskan bahwa CSR modern harus mampu menciptakan shared value, yaitu nilai yang secara simultan memberikan manfaat bagi bisnis, masyarakat, dan lingkungan.

“CSR hari ini bukan lagi sekadar donasi. Ia harus menjadi strategi yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya.

Helmy juga menyoroti semakin eratnya keterkaitan antara CSR dan ESG (Environmental, Social, Governance). Menurutnya, kinerja ESG kini menjadi faktor penting dalam penilaian investor global, akses pendanaan, serta reputasi perusahaan.

“Skor ESG sangat menentukan keberlanjutan bisnis. Karena itu, CSR harus sejalan dengan agenda ESG, mulai dari dekarbonisasi dan energi terbarukan, hingga isu HAM, K3, inklusi, dan tata kelola yang transparan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Helmy menekankan pentingnya orientasi dampak (impact-oriented) dalam pelaksanaan CSR. Ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan CSR tidak lagi ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh perubahan nyata yang dihasilkan.

“Pertanyaan terpenting bukan lagi berapa dana yang dikeluarkan, tetapi perubahan apa yang benar-benar terjadi di masyarakat,” kata Helmy, seraya menekankan pentingnya pengukuran dampak melalui indikator seperti Social Return on Investment (SROI).

Dalam konteks pembangunan global, Helmy juga menggarisbawahi keterkaitan CSR dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Banyak program CSR, menurutnya, dapat menjadi kontribusi konkret sektor swasta dalam mendukung tujuan seperti pendidikan berkualitas, pengentasan kemiskinan, aksi iklim, dan kesetaraan gender.

Selain itu, Helmy mendorong perusahaan untuk menerapkan pendekatan stakeholder-centric, dengan melibatkan komunitas sejak tahap perencanaan melalui needs assessment serta membangun kemitraan dengan pemerintah, NGO, dan akademisi. Transparansi dan pelaporan keberlanjutan juga menjadi aspek krusial yang tidak dapat diabaikan.

“Publik kini menilai keaslian CSR, bukan sekadar branding. Sustainability report dan standar global seperti GRI, ISO 26000, SASB, dan TCFD menjadi indikator penting,” ujarnya.

Menutup paparannya, Helmy menekankan bahwa CSR masa kini harus memanfaatkan teknologi digital dan inovasi sosial, mulai dari pemantauan dampak hingga pengembangan model bisnis inklusif.

“CSR hari ini adalah kombinasi antara tanggung jawab, strategi, keberlanjutan, dan dampak terukur. Ia telah menjadi faktor daya saing dan penentu keberlanjutan bisnis,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here