FirstIndonesiaMagz.id– PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) turut berpartisipasi dalam wawancara penjurian Indonesia Sustainability Award 2026 dengan memaparkan strategi dan implementasi ESG (Environmental, Social, Governance) yang dijalankan perusahaan dalam membangun ekosistem aviasi dan pariwisata berkelanjutan di Indonesia.
Paparan dibuka oleh Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman, dan dilanjutkan oleh Robby Saputra selaku VP Human Capital Development and Sustainability bersama tim, termasuk Vito Johannes P. Hutagalung selaku Sustainability Senior Officer.
Dalam kesempatan tersebut, InJourney menegaskan perannya sebagai strategic holding dan tourism orchestrator yang tidak hanya mendorong pertumbuhan industri pariwisata nasional, tetapi juga memastikan keberlanjutan menjadi bagian utama dalam pengembangan bisnis perusahaan.
Membuka presentasi, Herdy Harman menjelaskan bahwa sektor aviasi dan pariwisata memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami percaya bahwa masa depan industri aviasi dan pariwisata harus dibangun dengan prinsip keberlanjutan. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan dan penciptaan dampak positif bagi masyarakat,” ujar Herdy.
Sebagai holding BUMN aviasi dan pariwisata, InJourney saat ini mengelola ekosistem besar yang mencakup 156 juta penumpang bandara, 9,2 juta wisatawan destinasi, lebih dari 540 event dan program, serta 49 ribu karyawan di berbagai entitas usaha.
Robby Saputra menjelaskan bahwa InJourney telah menyusun roadmap ESG jangka panjang yang dibangun secara bertahap mulai 2025 hingga 2030.
Roadmap tersebut terdiri dari beberapa fase utama:
- Laying the ESG Foundation
- Enhancing ESG Foundations
- Growing ESG Integration
- Accelerating ESG Excellence
- Catalyzing ESG Impact
- Yielding ESG Value Creation
“Kami tidak ingin ESG berhenti pada level kebijakan. ESG harus terintegrasi dalam proses bisnis sehari-hari, pengambilan keputusan, hingga budaya kerja di seluruh InJourney Group,” jelas Robby.
Menurutnya, InJourney saat ini telah menyelesaikan ESG baseline assessment, materiality mapping, pengembangan ESG dashboard, serta penyusunan roadmap Net Zero Emission menuju 2060 atau lebih cepat.
Dalam aspek lingkungan, InJourney menjalankan berbagai inisiatif dekarbonisasi di sektor bandara, destinasi wisata, hotel, dan kawasan pariwisata.
Program utama yang dijalankan antara lain:
- Pemanfaatan PLTS di 9 bandara
- Penggunaan kendaraan dan peralatan listrik
- Pengelolaan limbah berbasis maggot dan kompos
- Penanaman pohon dan mangrove
- Pemanfaatan air daur ulang di kawasan wisata dan bandara
“Kami ingin memastikan bahwa operasional aviasi dan pariwisata dapat bergerak menuju low-carbon operation melalui langkah yang konkret dan terukur,” ujar Robby.
Hingga saat ini, InJourney telah menghasilkan:
- 4.078 MWh energi bersih dari PLTS
- 153 unit GSE elektrik di bandara
- 534 kendaraan listrik di destinasi wisata
- 40 ribu pohon dan mangrove tertanam di berbagai aset perusahaan
Selain itu, kawasan Nusa Dua telah memanfaatkan lebih dari 1,7 juta meter kubik air daur ulang untuk efisiensi sumber daya air.
Dalam aspek sosial, InJourney mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui empat program utama:
- InJourney Hospitality House
- InJourney Green
- InJourney Community Care
- InJourney UMKM by Sarinah Pandu
Program-program tersebut dirancang untuk menciptakan dampak jangka panjang bagi masyarakat di sekitar destinasi wisata dan wilayah operasional perusahaan.
Program pemberdayaan ini juga mendukung pengembangan desa wisata berbasis komunitas dan peningkatan kapasitas local heroes di sektor pariwisata.
Dalam aspek governance, InJourney memperkuat tata kelola keberlanjutan melalui kebijakan sustainability policy, ESG dashboard, dan sustainability disclosure terintegrasi di seluruh grup perusahaan.
Robby menjelaskan bahwa seluruh tujuh entitas InJourney Group kini telah menerbitkan sustainability report sebagai bentuk transparansi kepada stakeholder.
“Kami percaya sustainability harus dapat diukur. Karena itu kami membangun ESG dashboard sebagai single source of truth untuk memonitor kinerja ESG secara real-time,” ujarnya.
Dashboard tersebut memungkinkan perusahaan melakukan:
- Monitoring emisi GRK
- Pemantauan environmental performance
- Tracking sustainability maturity level
- Penguatan transparansi dan akuntabilitas ESG
Menutup sesi presentasi, Robby menegaskan bahwa keberlanjutan akan terus menjadi arah utama transformasi InJourney ke depan.
“Kami ingin memastikan bahwa pertumbuhan industri aviasi dan pariwisata Indonesia tidak hanya besar secara ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial dan lingkungan yang positif bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Melalui integrasi ESG, inovasi dekarbonisasi, pemberdayaan masyarakat, serta tata kelola yang transparan, InJourney menunjukkan komitmennya dalam membangun ekosistem aviasi dan pariwisata Indonesia yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan.





























