First Indonesia Magazine – Great Giant Foods (GGF) memperkuat sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) melalui pemanfaatan digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI). Transformasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dalam mengidentifikasi risiko, memperkuat pengawasan, serta mencegah kecelakaan kerja di tengah kompleksitas operasional perusahaan.
Upaya tersebut dipaparkan dalam penjurian Indonesia Safety Excellence Award (ISEA) 2026 yang digelar secara daring, pada Kamis (30/07). Mengusung tema “Advancing Predictive & Sustainable Safety in the Digital and Climate Era”, ajang ini mendorong perusahaan untuk memperkuat kepemimpinan K3, inovasi, budaya keselamatan, serta pemanfaatan teknologi dan keberlanjutan.
SHE Manager Great Giant Foods, Nur Ilman Ilyas, mengatakan skala operasional perusahaan yang mencakup perkebunan, pabrik, hingga distribusi menghadirkan tantangan keselamatan yang kompleks. Karena itu, perusahaan membangun sistem yang dapat mendukung peningkatan kinerja K3 secara berkelanjutan.
“Dengan besarnya operasional kami, tentunya kami memiliki tantangan yang luar biasa. Karena itu, kami membangun foundation system untuk memastikan kesehatan dan keselamatan terus mengalami perbaikan. Salah satunya melalui digitalisasi yang kami gunakan untuk mendukung monitoring, inspeksi, pelaporan bahaya, hingga meningkatkan safety awareness seluruh karyawan,” ujar Nur Ilman.
Ia menjelaskan, penerapan K3 di GGF mulai diarahkan dari pendekatan konvensional menuju sistem yang lebih prediktif. Data dan teknologi digunakan untuk membaca kecenderungan risiko sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum terjadi kecelakaan.
Pendekatan tersebut juga diperkuat dengan keterlibatan pimpinan dan pekerja dalam menjalankan continuous improvement. Dalam materi presentasinya, GGF menempatkan analisis tren, penilaian risiko, penetapan sasaran SHE, inspeksi, audit, hingga evaluasi kinerja sebagai bagian dari siklus pengelolaan K3.
Sementara itu, Head of Health, Safety and Environment (HSE) Great Giant Foods, Arief Fathullah, mengatakan digitalisasi dilakukan dengan terlebih dahulu memetakan proses bisnis yang memiliki peluang untuk dioptimalkan menggunakan teknologi.
“Sekarang kami sedang memetakan keseluruhan proses bisnis, mana yang bisa didigitalisasi. Ketika melakukan assessment, banyak aspek yang dipertimbangkan, salah satunya safety and health. Harapannya, dengan adanya digitalisasi ini bisa mengurangi potensi kecelakaan dan meningkatkan kesehatan,” kata Arief.
Salah satu penerapan teknologi dilakukan melalui penggunaan drone untuk memonitor aktivitas di area perkebunan. Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh informasi kondisi lapangan secara lebih efektif.
Pada sektor transportasi, GGF juga mulai menggunakan dashcam berbasis AI untuk memonitor perilaku pengemudi selama menjalankan aktivitas operasional, termasuk perjalanan dari area perkebunan menuju pelabuhan.
“Untuk monitoring di kebun, sekarang sudah menggunakan drone. Kemudian di transportasi kami juga mulai memasang dashcam AI yang melakukan monitoring terhadap driver dan perilakunya. Dengan begitu, selama beroperasi di kebun maupun dalam perjalanan dari kebun ke pelabuhan, mereka bisa berada dalam kondisi yang lebih aman,” ujarnya.
Pemanfaatan AI tidak hanya ditujukan untuk pengawasan, tetapi juga untuk mendukung pengambilan keputusan di lapangan. Data yang diperoleh dari drone dapat diolah untuk menentukan kebutuhan pupuk dan pestisida secara lebih tepat berdasarkan kondisi area perkebunan.
“Dengan adanya digitalisasi drone dan pengolahan menggunakan AI, nantinya keluar rekomendasi, misalnya pemupukan hanya diperlukan di lokasi tertentu atau pestisida hanya dialokasikan di area tertentu. Ini membuat penggunaan pupuk dan pestisida lebih efisien sekaligus mengurangi potensi paparan pestisida kepada operator,” jelas Arief.
GGF bahkan tengah melakukan uji coba penggunaan drone untuk aplikasi pestisida. Menurut Arief, penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat mengurangi keterlibatan langsung pekerja dalam aktivitas yang berpotensi menimbulkan paparan bahan kimia.
“Sekarang kami sedang trial penggunaan drone untuk aplikasi pestisida. Harapannya, ini benar-benar bisa mengurangi potensi paparan pestisida atau bahan-bahan kimia kepada manusia. Dari evaluasi yang kami lakukan, efisiensinya sangat terasa, termasuk dari sisi biaya, potensi kecelakaan, dan dampaknya terhadap kesehatan fisik,” tutur Arief.
Transformasi digital tersebut menjadi bagian dari roadmap SHE GGF yang tidak hanya berfokus pada keselamatan kerja, tetapi juga kesehatan dan lingkungan. Perusahaan menetapkan sejumlah target, antara lain mencapai zero accident di seluruh unit bisnis, meningkatkan standar SMK3, mengendalikan bahaya berisiko tinggi, serta memperkuat kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.
Melalui strategi tersebut, Great Giant Foods berupaya menggeser pengelolaan K3 dari sekadar respons terhadap kecelakaan menjadi sistem yang mampu memprediksi dan mencegah risiko. Digitalisasi, AI, analisis data, serta keterlibatan pekerja dan pimpinan menjadi fondasi perusahaan dalam membangun budaya keselamatan yang lebih kuat dan berkelanjutan. (da)





































