First Indonesia Magazine- Fenomena penumpang yang terpaksa bermalam di Stasiun Cikarang akibat tertinggal kereta terakhir mendorong berbagai usulan solusi. Salah satunya adalah penyediaan ruang istirahat sederhana di area stasiun bagi pekerja dan penumpang yang harus menunggu keberangkatan kereta pertama pada dini hari.
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai pengoperasian KRL selama 24 jam belum memungkinkan karena rel dan armada memerlukan waktu untuk pemeriksaan serta perawatan rutin demi menjaga keselamatan perjalanan. Karena itu, penyediaan fasilitas istirahat dinilai menjadi solusi yang lebih realistis dan manusiawi.
Sementara itu, KAI Commuter menjelaskan bahwa setelah perjalanan terakhir, area stasiun perlu dikosongkan untuk proses pembersihan dan pemeliharaan fasilitas. Meski demikian, pemerintah dan operator kereta masih mengkaji berbagai alternatif agar kebutuhan mobilitas masyarakat, khususnya pekerja dengan jam kerja malam, dapat tetap terlayani dengan lebih baik. *** (da)





































