FirstIndonesiaMagz.id– Situasi keamanan di kawasan Teluk kembali memanas setelah militer Amerika Serikat mengambil tindakan tegas terhadap sebuah kapal berbendera Iran yang diduga mencoba menembus blokade laut di Teluk Oman.
Presiden Donald Trump pada Minggu (19/4) mengonfirmasi bahwa Angkatan Laut AS telah menembaki dan kemudian menguasai kapal kargo Iran tersebut. Langkah ini diambil setelah kapal itu tidak mengindahkan peringatan untuk berhenti.
Trump menyebut kapal bernama Touska mengabaikan instruksi militer AS. Ia menjelaskan bahwa kapal perusak berpeluru kendali USS Spruance menghentikan laju kapal dengan menargetkan ruang mesinnya.
“Saat ini, Marinir AS telah mengamankan kapal tersebut dan sedang melakukan pemeriksaan terhadap muatannya,” tulis Trump.
Insiden ini terjadi di tengah situasi yang sudah sangat tegang di Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi global. Kawasan ini praktis terganggu sejak konflik antara Amerika Serikat dan sekutunya melawan Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, Iran sempat membuka kembali jalur tersebut menyusul gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Namun, keputusan itu hanya berlangsung singkat. Teheran kembali menutup akses setelah AS tetap mempertahankan blokade terhadap kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran.
Menurut United States Central Command (CENTCOM), kapal Touska saat itu sedang menuju pelabuhan Bandar Abbas. Pihak militer AS menyatakan bahwa mereka telah memberikan peringatan kepada awak kapal sebelum akhirnya mengambil tindakan.
Setelah peringatan diabaikan, kapal perusak AS melepaskan tembakan dari meriam kaliber lima inci untuk melumpuhkan sistem propulsi kapal. Dalam keterangan resmi, disebutkan bahwa awak kapal sebelumnya diminta mengosongkan ruang mesin sebelum penembakan dilakukan.
CENTCOM juga mengungkapkan bahwa sejak blokade diberlakukan, sedikitnya 25 kapal komersial telah diperintahkan untuk berbalik arah atau kembali ke pelabuhan asalnya.
Trump menambahkan bahwa kapal Touska telah masuk dalam daftar sanksi Departemen Keuangan AS karena dugaan keterlibatan dalam aktivitas ilegal sebelumnya. Kapal tersebut memang tercatat dalam daftar Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC).
Data pelacakan menunjukkan bahwa sebelum insiden terjadi, kapal berada sekitar 45 kilometer dari pesisir selatan Iran, dekat Chabahar. Sumber lain menyebutkan kapal itu sebelumnya berlayar dari Malaysia, sementara laporan media Iran menyatakan kapal tersebut datang dari China.
Di sisi lain, komando militer Iran, Khatam al-Anbiya, menuduh tindakan AS sebagai pelanggaran gencatan senjata. Iran pun menyatakan akan segera memberikan respons.
“Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan menanggapi dan membalas tindakan pembajakan bersenjata ini,” ujar juru bicara militer Iran.





























