FirstIndonesiaMagz.id– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami tekanan tajam di awal pekan ini seiring memburuknya konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. Laju indeks yang jatuh mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor global terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan dunia dalam kondisi yang penuh ketidakpastian.
Dalam keterangannya kepada media, Direktur Utama BEI, menyatakan bahwa aksi jual masif yang terjadi di pasar saham domestik merupakan respons langsung terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, sentimen risiko tinggi yang melanda pasar global turut memengaruhi preferensi investor yang beralih dari aset berisiko.
“Saat ini pasar bereaksi terhadap sentimen geopolitik yang sangat kuat. Ketika ketidakpastian meningkat, pelaku pasar cenderung melakukan risk-off, mencari instrumen yang lebih aman dan menjauh dari ekuitas,” ujar Dirut BEI dalam komentarnya pada Senin pagi.
Sentimen negatif ini bukan hanya dialami oleh bursa domestik, tetapi juga pasar global. Ketegangan yang berkembang setelah serangan militer antara AS dan Israel terhadap Iran telah memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik dan gangguan terhadap rantai pasokan energi dunia. Hal ini tercermin dari lonjakan harga minyak mentah dan pergeseran preferensi investor ke aset aman seperti emas dan obligasi negara maju.
Sejumlah analis pasar modal menilai eskalasi konflik tersebut berpotensi membawa tekanan lebih lanjut bagi IHSG dalam beberapa sesi mendatang. Permintaan akan aset yang lebih aman dan pergeseran modal keluar dari pasar negara berkembang menjadi salah satu faktor utama pelemahan indeks.
Selain itu, apabila konflik berkembang dan berdampak pada jalur logistik energi melalui Selat Hormuz, risiko terhadap pasar global akan semakin tinggi. Lonjakan harga minyak dapat menambah tekanan inflasi, memperburuk ketidakpastian ekonomi dunia, serta memengaruhi nilai tukar mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Menghadapi dinamika ini, pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia terlihat berhati-hati dalam mengambil posisi. Investor cenderung melakukan rebalancing portofolio, mengurangi paparan pada saham berisiko tinggi, dan mengalihkan sebagian investasi ke instrumen yang lebih defensif. Direktur Utama BEI menegaskan pihaknya terus memantau kondisi pasar secara intensif dan berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk memastikan stabilitas pasar modal tetap terjaga dalam menghadapi tekanan eksternal. (Shara Al Najwa)





































