Kronologi Kecelakaan Kereta di Bekasi, Berawal dari Taksi Mogok hingga Tabrakan Beruntun
Kronologi Kecelakaan Kereta di Bekasi, Berawal dari Taksi Mogok hingga Tabrakan Beruntun

FirstIndonesiaMagz.id– Insiden kecelakaan kereta yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek terjadi di kawasan Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, pada Senin (27/4) malam. Peristiwa ini merupakan rangkaian kecelakaan beruntun yang diawali dari insiden di perlintasan sebidang.

Berdasarkan informasi awal dari Kementerian Perhubungan, kejadian bermula ketika sebuah kendaraan taksi online mengalami kerusakan saat melintas di perlintasan sebidang JPL 85, Bekasi Timur. Kendaraan tersebut berhenti di atas rel dan mengganggu perjalanan kereta rel listrik (KRL) relasi Bekasi – Cikarang.

Akibat gangguan tersebut, rangkaian KRL terpaksa dihentikan dan kemudian dioperasikan sebagai perjalanan luar biasa (PLB) dengan kode 5181. Dampaknya, satu rangkaian KRL lain dengan kode PLB 5568 yang menuju Cikarang harus diberhentikan di peron Stasiun Bekasi Timur.

Situasi ini menciptakan kondisi tidak normal di jalur rel, yang kemudian berujung pada kecelakaan berikutnya.

Tak lama berselang, KA Argo Bromo Anggrek relasi Jakarta – Surabaya melintas di jalur tersebut. Kereta jarak jauh itu diduga tidak sempat berhenti sepenuhnya, sehingga menabrak rangkaian KRL PLB 5568 yang sedang berhenti di stasiun.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Budi Hermanto, menjelaskan bahwa terdapat dua kejadian dalam rangkaian insiden tersebut.

Pertama adalah gangguan akibat taksi online yang mogok di rel, dan kedua adalah tabrakan antara kereta Argo Bromo Anggrek dengan KRL.

“Peristiwa awal ini menghambat perjalanan kereta dan berujung pada kecelakaan berikutnya yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi,” ujar Budi dalam keterangannya.

Korban Mencapai Ratusan

Hingga Rabu (29/4) siang, kepolisian mencatat total 106 korban dalam peristiwa ini. Dari jumlah tersebut, 16 orang dilaporkan meninggal dunia.

Sementara itu, sebanyak 90 orang mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, 44 korban telah diperbolehkan pulang, sedangkan 46 lainnya masih menjalani perawatan dan observasi medis.

Dari kejadian tersebut, pihak kepolisian telah melakukan penyelidikan mendalam terhadap dua rangkaian kejadian. Sebanyak 22 saksi telah dimintai keterangan guna mengungkap penyebab pasti serta kemungkinan adanya unsur kelalaian.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena melibatkan sistem transportasi massal dan menimbulkan korban dalam jumlah besar. Evaluasi terhadap keselamatan perlintasan sebidang dan operasional kereta api pun menjadi sorotan utama pascakejadian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here