FirstIndonesiaMagz.id– PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPM Group) turut berpartisipasi dalam wawancara penjurian Indonesia Sustainability Award 2026 dengan memaparkan berbagai implementasi ESG (Environmental, Social, Governance) yang dijalankan perusahaan melalui pendekatan ekonomi sirkular, rehabilitasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Paparan disampaikan oleh Pamela Octavianie selaku Manager Corporate Communication & Sustainability dan turut didampingi Natalia Lusnita selaku GM Corporate Communication & Sustainability.
Dalam kesempatan tersebut, MPM Group menegaskan komitmennya untuk menjalankan bisnis berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan usaha, tetapi juga memberikan dampak sosial dan lingkungan yang nyata bagi masyarakat.
Membuka presentasi, Pamela Octavianie menjelaskan bahwa ESG di MPM Group dibangun melalui berbagai inisiatif yang terintegrasi dengan aktivitas bisnis perusahaan dan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
MPM Group juga menempatkan praktik bisnis yang bertanggung jawab melalui penguatan aspek tata kelola, perlindungan konsumen, serta penciptaan lingkungan kerja yang aman dan inklusif.
Perusahaan menghadirkan berbagai kanal komunikasi pelanggan, pengendalian kualitas produk, hingga perlindungan data pelanggan sebagai bagian dari tanggung jawab produk dan layanan berkelanjutan.
Salah satu program unggulan yang dipaparkan adalah Program MILAH (Mitra Olah Sampah), sebuah inisiatif ekonomi sirkular berbasis masyarakat melalui penguatan bank sampah dan edukasi pengelolaan limbah berkelanjutan.
“Program MILAH kami hadir bukan hanya untuk mengurangi sampah, tetapi juga membangun perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah agar memiliki nilai ekonomi,” jelas Pamela.
Sejak dimulai pada 2021, MPM Group telah mendirikan sejumlah bank sampah binaan di Tangerang, Sidoarjo, hingga Malang sebagai bagian dari strategi replikasi program secara berkelanjutan.
Program ini dijalankan melalui empat tahap utama, yakni pendirian bank sampah, penyediaan fasilitas operasional, pelatihan kapasitas pengurus serta monitoring menuju kemandirian finansial dan operasional
“Kami ingin bank sampah yang dibangun benar-benar mandiri. Karena itu, MPM hadir sebagai katalisator, bukan sekadar pemberi bantuan,” tambah Pamela.
Berbagai aktivitas rutin dilakukan dalam program MILAH, mulai dari penimbangan sampah, edukasi masyarakat, pelatihan upcycling, hingga kemitraan dengan jaringan daur ulang.
Melalui program ini, masing-masing bank sampah binaan berhasil mengelola rata-rata sekitar 10 ton sampah per tahun yang terselamatkan dari TPA.
Keberhasilan program tersebut juga mendapat pengakuan dari Pemerintah Kota Tangerang, di mana Bank Sampah Sumber Mutiara Tangerang dinobatkan sebagai bank sampah terbaik tingkat kota pada 2026.
Selain ekonomi sirkular, MPM Group juga menjalankan program MPM EcoMangrove di Desa Golo Sepang, Nusa Tenggara Timur, sebagai solusi berbasis alam untuk mitigasi perubahan iklim dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
Program ini mencakup rehabilitasi 10 hektar kawasan mangrove melalui penanaman 100 ribu bibit mangrove sekaligus pengembangan ekonomi masyarakat lokal.
“Mangrove memiliki peran penting dalam perlindungan pesisir, mitigasi perubahan iklim, dan penguatan ekonomi masyarakat. Karena itu kami mengembangkan program ini secara jangka panjang,” ujar Pamela.
Program EcoMangrove juga melibatkan nelayan, penggiat mangrove, dan kelompok ibu PKK melalui pelatihan usaha dan pengembangan ekonomi produktif.
MPM menjelaskan bahwa mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon lebih tinggi dibanding hutan daratan serta berperan penting dalam mengurangi abrasi dan banjir rob.
Hasil monitoring menunjukkan tingkat kelulushidupan mangrove di area rehabilitasi mencapai lebih dari 70 persen, menunjukkan efektivitas program dan potensi keberlanjutan ekosistem pesisir.
Selain itu, potensi simpanan karbon kawasan rehabilitasi diproyeksikan terus meningkat hingga mencapai 8–12 ton CO₂e per hektar dalam 15 tahun ke depan.
“Kami melihat rehabilitasi mangrove bukan hanya soal konservasi, tetapi juga investasi jangka panjang untuk ketahanan iklim dan pengembangan blue economy,” tambah Pamela.
Menutup sesi wawancara penjurian, Pamela Octavianie selaku Manager Corporate Communication & Sustainability menyampaikan apresiasi kepada dewan juri atas berbagai masukan dan insight yang diberikan kepada MPM Group.
“Terima kasih atas seluruh masukan dan catatan yang diberikan untuk improvement kami ke depan. Tentunya kami menyadari masih banyak hal yang perlu disempurnakan dan masih terdapat berbagai ketidaksesuaian yang menjadi perhatian kami,” ujar Pamela.
Ia menambahkan bahwa berbagai masukan dari dewan juri akan menjadi bahan evaluasi penting dalam memperkuat implementasi ESG dan pengembangan program keberlanjutan perusahaan.
“Kami berharap seluruh masukan ini dapat menjadi feedback yang sangat berharga bagi kami agar ke depannya dapat menjadi lebih baik lagi, baik dari sisi implementasi maupun penguatan dampak program yang dijalankan. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas waktu, perhatian, dan kesempatan yang telah diberikan kepada kami,” tutupnya.
Melalui program ekonomi sirkular, rehabilitasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas, MPM Group menunjukkan komitmennya dalam membangun bisnis yang tumbuh bersama masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan.





























