First Indonesia Magazine- Pemerintah Nepal menyatakan membutuhkan bantuan internasional dalam bidang-bidang teknis khusus untuk menangani dampak banjir dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Himalaya. Namun, Nepal menegaskan belum memerlukan bantuan asing untuk operasi pencarian dan penyelamatan secara umum.

Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan bantuan yang dibutuhkan antara lain untuk mengevakuasi korban yang terjebak di dalam terowongan, memulihkan akses transportasi dan komunikasi di wilayah yang jembatannya rusak, serta melakukan identifikasi jenazah dan pengujian DNA.

Banjir yang dipicu runtuhnya gletser pada pekan ini membawa material batu, es, lumpur, dan puing-puing dalam jumlah besar ke sistem sungai di kawasan pegunungan. Bencana tersebut menimbulkan kerusakan luas dan menelan ratusan korban jiwa, sementara ribuan orang lainnya masih dilaporkan hilang.

Operasi pencarian dan penyelamatan sendiri sempat dihentikan akibat hujan dan cuaca berkabut yang menyulitkan petugas menjangkau lokasi terdampak. Pemerintah kini juga memprioritaskan pemindahan para penyintas dan peziarah yang berhasil diselamatkan menuju Kathmandu.

Selain bantuan teknis untuk penanganan darurat, Nepal menghadapi tantangan besar dalam proses pemulihan. Pemerintah memperkirakan kebutuhan dana rekonstruksi pascabencana mencapai sekitar US$4 miliar hingga US$5 miliar, seiring luasnya kerusakan terhadap infrastruktur, termasuk jalur transportasi dan fasilitas penting lainnya.

Pemerintah Nepal juga terus memantau kondisi danau yang terbentuk di wilayah hulu setelah bencana. Meski risiko luapan dilaporkan mulai berkurang, potensi banjir masih menjadi perhatian hingga kondisi di kawasan tersebut benar-benar stabil. *** (da)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here