First Indonesia Magazine- PT Nindya Karya (Persero) memaparkan penerapan sistem Quality, Health, Safety and Environment (QHSE) yang terintegrasi dalam penjurian Indonesia Safety Excellence Award (ISEA) 2026 yang digelar secara daring, Selasa (22/7). Ajang bertema “Advancing Predictive & Sustainable Safety in the Digital and Climate Era” ini menjadi wadah apresiasi bagi perusahaan yang unggul dalam kepemimpinan K3, inovasi, budaya keselamatan, serta transformasi digital dan keberlanjutan.
Dalam presentasinya, Vice President Perencanaan QHSE PT Nindya Karya, Hana Fajrianti, menjelaskan bahwa Nindya Karya merupakan perusahaan BUMN yang bergerak di bidang konstruksi, EPC, dan investasi.
“Nindya Karya adalah satu perusahaan BUMN dalam bidang konstruksi, EPC dan investasi,” ujarnya.
Ia mengatakan implementasi QHSE perusahaan didasarkan pada lima nilai utama, yakni Integrity & Collaboration, Operation Excellence, People & Safety First, Environmental Responsibility, serta Continuous Improvement & Innovation.
Menurut Hana, kepemimpinan QHSE di Nindya Karya diterapkan pada seluruh level organisasi.
“Secara filosofi leadership adalah bagaimana peran Nindya Karya dalam setiap levelnya. Strong QHSE performance is built when leadership exists at every level, dari boardroom hingga project site,” katanya.
Nindya Karya menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) berdasarkan Permen PUPR Nomor 10 Tahun 2021 yang terintegrasi dengan ISO 9001, ISO 45001, ISO 14001, dan SMK3 PP Nomor 50 Tahun 2012. Integrasi tersebut diperkuat melalui QHSE Integration Framework yang menghubungkan seluruh fungsi bisnis perusahaan, mulai dari proyek, human capital, supply chain, teknologi informasi hingga manajemen risiko dan ESG.
“OTP kami rutin kami buat dari 2018 sehingga seluruh target dan program QHSE dapat dimonitor serta dievaluasi secara berkelanjutan,” ujar Hana.
Untuk mendukung implementasi QHSE, perusahaan mengembangkan SIM QHSE yang terintegrasi dengan berbagai sistem perusahaan dan digunakan untuk memantau mutu, K3, lingkungan, emisi karbon, hingga kepuasan pelanggan secara real time.
“Kami mempunyai QHSE digital platform yang kita pakai sehari-hari yaitu SIM QHSE,” katanya.
Sementara itu, pengelolaan emisi karbon dilakukan melalui NICAF (Nindya Calculator for Carbon Footprint) yang menghitung emisi berdasarkan konsumsi energi, bahan bakar, dan material secara otomatis. Di sisi lain, pengelolaan vendor dilakukan melalui Contractor Quality & Safety Management System (CQSMS) 2.0 yang mengintegrasikan proses seleksi hingga evaluasi kinerja subkontraktor agar memenuhi standar QHSE perusahaan.
Hana juga menjelaskan bahwa proses bisnis HSE, sistem manajemen K3, dan manajemen lingkungan diterapkan secara terintegrasi mulai dari tahap perencanaan, identifikasi risiko, pelaksanaan pekerjaan, inspeksi, audit, hingga evaluasi dan perbaikan berkelanjutan. Perusahaan juga menargetkan zero loss time injury & fatality melalui penerapan Safety Golden Rules pada seluruh aktivitas berisiko tinggi.
Untuk meningkatkan kompetensi pekerja, Nindya Karya menyediakan QHSE Learning Media melalui Learning Management System, Digital Safe Work Guide, serta berbagai seminar dan pelatihan rutin. Selain itu, perusahaan menyediakan Customer Dashboard di website sebagai media pengelolaan kepuasan dan keluhan pelanggan.
Di bidang budaya keselamatan, Nindya Karya terus menunjukkan peningkatan.
“Safety culture sendiri sebelum 2020 masih berada pada level calculating. Sejak 2021 kami bergerak menuju level proactive dengan memperkuat safety leadership dan continuous improvement sebagai budaya kerja perusahaan,” tutup Hana. *** (da)





































