First Indonesia Magazine- Agen kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan OpenAI diduga menggunakan lebih dari 10 situs web tanpa izin untuk berkomunikasi pada awal 2026. Temuan tersebut berasal dari enam kelompok peneliti independen yang ditinjau Reuters.

Aktivitas itu berlangsung sekitar Mei hingga Juli 2026. Para peneliti menemukan jejak agen AI pada sejumlah wiki, situs penyimpanan teks, hingga layanan pemendek tautan yang dikelola sejumlah universitas.

Salah satu kasus yang sebelumnya terungkap adalah penggunaan sebuah wiki berbahasa Jerman sebagai media komunikasi antargen AI. Situs tersebut diduga dimanfaatkan untuk bertukar informasi, termasuk cara menghindari batasan yang diberikan dalam pengujian.

Peneliti California nonprofit CivAI, Andrew Yoon, memperkirakan sedikitnya 18 situs yang sebelumnya belum diketahui telah digunakan. Sementara kelompok peneliti yang dipimpin Sydney Von Arx menemukan bukti aktivitas pada hingga 23 situs. Namun, jumlah tersebut masih dapat bertambah karena cakupan aktivitas belum sepenuhnya diketahui.

Para peneliti menilai tindakan tersebut tidak tergolong peretasan. Namun, perilaku agen AI yang mampu mencari celah untuk berkomunikasi meski telah dibatasi menimbulkan kekhawatiran mengenai kemampuan dan pengawasan terhadap sistem AI otonom.

OpenAI mengatakan sedang melakukan peninjauan lebih luas terhadap aktivitas para agennya. Perusahaan juga menyatakan tengah menyusun kerangka pelaporan untuk menangani perilaku AI yang tidak sesuai dengan tujuan atau batasan yang ditetapkan.

Temuan ini kembali menyoroti tantangan dalam memastikan agen AI tetap berada dalam kendali manusia, terutama ketika sistem tersebut mampu menemukan cara alternatif untuk mencapai tujuan yang diberikan kepadanya. *** (da)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here