First Indonesia Magazine- Pasar saham Asia bergerak melemah pada Kamis (1/10) setelah mengalami perdagangan yang bergejolak sepanjang September. Investor memasuki kuartal IV dengan mencermati pergerakan imbal hasil obligasi dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,2%. Indeks KOSPI Korea Selatan juga melemah tipis, sementara Nikkei Jepang justru menguat lebih dari 1% didorong kenaikan saham-saham perusahaan chip.
Perhatian investor turut tertuju pada data inflasi Amerika Serikat untuk Agustus yang meningkat lebih lambat dari perkiraan. Kondisi tersebut mengurangi ekspektasi pasar terhadap kemungkinan Federal Reserve menaikkan suku bunga pada Oktober.
Namun, imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap berada di level tinggi. Imbal hasil Treasury 10 tahun mencapai 5,306%, tertinggi sejak 2007, sedangkan imbal hasil Treasury 30 tahun berada di 5,634%.
Kontrak berjangka Fed menunjukkan peluang kenaikan suku bunga pada bulan ini turun menjadi sekitar 38%, dari 50% sehari sebelumnya. Pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams yang lebih berhati-hati turut memengaruhi ekspektasi pasar.
Di pasar valuta asing, dolar AS bertahan di sekitar level tertinggi dalam dua bulan. Indeks dolar naik sekitar 2% sepanjang September, sementara euro melemah hampir 2,5% pada bulan yang sama akibat kekhawatiran terkait kondisi utang dan energi di Eropa.
Sementara itu, harga minyak relatif stabil tetapi masih berada di level tinggi. Harga Brent tercatat sekitar US$98,15 per barel setelah mengalami kenaikan signifikan sepanjang September. Ketegangan Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang masih diperhatikan investor karena berpotensi menekan inflasi global.
Pasar kini memasuki kuartal terakhir 2026 dengan perhatian tertuju pada arah suku bunga AS, pergerakan imbal hasil obligasi, harga energi, serta perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi prospek ekonomi global. *** (da)/ (Sumber Foto Reuters)





























