First Indonesia Magazine- Indonesia Safety Excellence Award (ISEA) 2026 kembali menggelar sesi penjurian secara daring, Kamis (06/08). Mengusung tema “Advancing Predictive & Sustainable Safety in the Digital and Climate Era”, ajang ini menjadi wadah apresiasi bagi perusahaan yang menunjukkan keunggulan dalam kepemimpinan K3, inovasi, budaya keselamatan, transformasi digital, serta keberlanjutan.

Dalam sesi penjurian tersebut, PT Adiluhung Saranasegara Indonesia menghadirkan jajaran manajemen yang terdiri dari Direktur Utama Anita Puji Utami, Direktur SDM Amrullah, Kepala Biro QHSE Ranggi Nugraha, serta Direktur Keuangan Mawan Widodo. Kehadiran jajaran manajemen tersebut menunjukkan dukungan perusahaan terhadap penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di seluruh lini perusahaan.

Dalam sambutannya, Amrullah menegaskan komitmen manajemen terhadap penerapan K3 dan HSE. Menurutnya, keselamatan dan kesehatan kerja menjadi bagian penting dalam operasional perusahaan, termasuk dalam memastikan standar keselamatan dapat diterapkan dan dikomunikasikan kepada pelanggan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Adiluhung Saranasegara Indonesia, Anita Puji Utami, menyampaikan bahwa perusahaan telah berkomitmen menerapkan sistem manajemen keselamatan melalui berbagai standar nasional maupun internasional. Ia menekankan bahwa komitmen tersebut tidak berhenti pada aspek administratif, tetapi harus diwujudkan dalam aktivitas operasional sehari-hari.

“Komitmen kami bukan hanya sekadar teoritis atau administrasi, tetapi kami juga aplikasikan dalam kegiatan sehari-hari,” ujar Anita dalam sesi penjurian.

Ia menjelaskan, penerapan keselamatan dilakukan mulai dari penerimaan tamu, pelaksanaan safety drill, hingga peningkatan pemahaman dan komitmen keselamatan dari jajaran manajemen hingga karyawan. Perusahaan juga terus melakukan perbaikan terhadap sistem keselamatan serta meningkatkan kompetensi melalui berbagai pelatihan.

Menurut Anita, tujuan utama penerapan sistem manajemen keselamatan bukan semata-mata untuk mengejar penghargaan, melainkan membangun sistem yang semakin baik dan menjadikannya sebagai budaya perusahaan.

Dalam pemaparan yang disampaikan Kepala Biro QHSE Ranggi Nugraha, perusahaan menjelaskan sejumlah sistem dan program K3 yang telah diterapkan. Salah satunya adalah Permit to Work (PTW) yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan potensi risiko sebelum pekerjaan dilakukan.

Setiap permit harus melalui beberapa tahapan persetujuan, mulai dari pekerja, petugas safety, pimpinan proyek, hingga melibatkan Anak Buah Kapal (ABK). Keterlibatan ABK dilakukan untuk memastikan aspek keselamatan juga diperhatikan oleh pihak kapal karena mereka memahami kondisi dan area kapal yang menjadi lokasi pekerjaan.

Selain itu, perusahaan juga mengembangkan digitalisasi sistem manajemen. Salah satunya melalui sistem manajemen reparasi kapal yang memungkinkan pelanggan memantau pekerjaan kapal serta mengetahui ketersediaan slot docking. Perusahaan juga tengah mengembangkan Human Resource Management System (HRMS) untuk mendukung pengelolaan SDM.

Ke depan, perusahaan menyiapkan konsep AC Integrated Management System (AIMS) yang akan mengintegrasikan berbagai kebutuhan manajemen, termasuk safety induction, pesan dari top management, pelatihan, pelaporan bahaya dan keselamatan kerja, pencapaian KPI, hingga dokumen K3 dan lingkungan.

Salah satu program yang dikembangkan dalam sistem tersebut adalah Observasi dan Intervensi (OBIT). Melalui program ini, pekerja maupun subkontraktor dapat melaporkan temuan atau kondisi yang tidak sesuai di lapangan. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti dan diberikan sistem poin yang dapat menjadi dasar pemberian penghargaan kepada pekerja yang aktif berkontribusi terhadap keselamatan.

Untuk memperkuat kompetensi pekerja, sistem digital tersebut juga dirancang untuk menyediakan pelatihan berbasis video dan post-test. Pekerja yang memenuhi standar kelulusan akan memperoleh e-sertifikat dan selanjutnya dapat memenuhi persyaratan untuk mengajukan Permit to Work pada jenis pekerjaan tertentu.

Di sisi keberlanjutan, perusahaan juga memaparkan pengelolaan limbah B3 melalui pihak ketiga yang berizin, pemasangan informasi dan banner lingkungan, serta sosialisasi peraturan lingkungan kepada pekerja. Perusahaan turut bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem sebagai bagian dari kesiapan menghadapi risiko lingkungan dan perubahan kondisi cuaca.

Melalui berbagai program tersebut, PT Adiluhung Saranasegara Indonesia menunjukkan upaya memperkuat sistem K3 yang tidak hanya berorientasi pada kepatuhan, tetapi juga mengarah pada pencegahan risiko, digitalisasi, peningkatan keterlibatan pekerja, serta kesiapan menghadapi tantangan keselamatan dan lingkungan di masa depan. *** (da)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here