First Indonesia Magazine – PT Cipta Kridatama (CK) memaparkan berbagai strategi dan inovasi keselamatan kerja dalam penjurian Indonesia Safety Excellence Award (ISEA) 2026 yang digelar secara daring, Rabu (05/08). Ajang bertema “Advancing Predictive & Sustainable Safety in the Digital and Climate Era” ini menjadi wadah apresiasi bagi perusahaan yang unggul dalam kepemimpinan K3, inovasi, budaya keselamatan, serta transformasi digital dan keberlanjutan.

Dalam sesi penjurian, CK menyoroti pengembangan sistem keselamatan prediktif yang memanfaatkan data, teknologi digital, hingga artificial intelligence (AI) untuk mengantisipasi potensi risiko sebelum berkembang menjadi insiden.

Group Head QSHE PT Cipta Kridatama, Ahmad Faisal, mengatakan perusahaan mengembangkan safety predictive intelligence framework dengan mengintegrasikan sejumlah sumber data, mulai dari hazard reporting, risk management hingga incident investigation.

“Semua data ini kami kelola dan kami keluarkan dalam bentuk root cause analysis, sehingga muncul adanya predictive event. Kombinasi antara ketiga tools ini kami gunakan sebagai source data untuk melakukan predictive event,” ujar Ahmad Faisal dalam paparan penjurian.

Menurutnya, sistem tersebut memungkinkan perusahaan menentukan langkah pengendalian secara lebih tepat melalui preventive program sekaligus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap efektivitas pengendalian. Sistem ini juga telah didigitalisasi dan dapat diakses karyawan melalui perangkat mobile seperti telepon genggam maupun tablet.

CK juga mengembangkan sejumlah teknologi berbasis AI untuk mendukung keselamatan operasional pertambangan. Salah satunya adalah landslide prediction yang memanfaatkan data dari slope stability radar untuk membaca pergerakan lereng tambang dan memberikan indikasi potensi rekahan maupun longsoran.

Teknologi tersebut digunakan sebagai alat bantu dalam menentukan langkah mitigasi. Meski demikian, Faisal menegaskan hasil analisis AI tetap menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dan membutuhkan analisis lebih lanjut sebelum tindakan dilakukan.

Selain itu, CK memanfaatkan teknologi untuk memprediksi kondisi cuaca, mengembangkan fatigue risk prediction, serta menggunakan fatigue camera untuk mendeteksi potensi kelelahan operator. Data seperti jam tidur, riwayat temuan fatigue dan kondisi wellness dikombinasikan untuk mengidentifikasi tingkat risiko operator.

Digitalisasi juga diterapkan dalam berbagai proses operasional, termasuk sistem absensi real time, pemantauan kelengkapan alat pelindung diri, pelaporan insiden dan bahaya, pengelolaan sertifikasi kompetensi, hingga pemantauan fatigue.

Perusahaan bahkan tengah mengembangkan integrasi fatigue camera dengan auto brake system pada unit pengangkutan batubara. Teknologi tersebut dirancang untuk memberikan respons otomatis ketika sistem mendeteksi indikasi operator mengalami microsleep atau menutup mata.

Di sisi lain, CK turut mengintegrasikan aspek keberlanjutan melalui program Environmental, Social, and Governance (ESG). Program tersebut mencakup pengurangan emisi gas rumah kaca, pengelolaan air dan limbah, efisiensi bahan bakar, penguatan kompetensi pekerja, hingga penerapan tata kelola dan manajemen risiko.

Salah satu inisiatif yang dipaparkan adalah pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas 638 kW serta uji coba alat berat elektrifikasi sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi yang lebih ramah lingkungan.

Sementara itu, Direktur PT Cipta Kridatama, Susilo Ariwayudi, menyampaikan apresiasi atas kesempatan yang diberikan dalam proses penjurian ISEA 2026. Ia berharap proses penilaian dapat menjadi motivasi bagi perusahaan untuk terus meningkatkan kinerja di bidang keselamatan dan lingkungan.

“Kalau hasilnya bagus, akan menjadikan motivasi buat kami semua untuk terus berkembang dalam bidang safety dan enviro,” kata Susilo.

CK juga memaparkan visi keselamatan 2026-2030 yang diarahkan pada pembangunan budaya keselamatan untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Untuk 2026, perusahaan menetapkan fondasi melalui konsep No Incident Culture (NICE) yang ditopang sejumlah pilar, termasuk partisipasi pekerja, kepemimpinan dan tanggung jawab unit kerja, serta penguatan kinerja keselamatan.

Melalui strategi tersebut, CK menempatkan transformasi digital, teknologi prediktif, penguatan budaya keselamatan dan keberlanjutan sebagai bagian yang saling terintegrasi dalam menghadapi tantangan operasional pertambangan di masa mendatang. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here