First Indonesia First- Hutama Karya Infrastruktur (HKI) menegaskan komitmennya dalam memperkuat budaya keselamatan dan kesehatan kerja (K3) melalui penerapan sistem QHSS yang terintegrasi dengan operasional perusahaan. Hal tersebut disampaikan dalam sesi penjurian Indonesia Safety Excellence Award (ISEA) 2026 yang digelar secara daring, Senin (09/08).
Dalam ajang bertema “Advancing Predictive & Sustainable Safety in the Digital and Climate Era” tersebut, Fu’ad Izzatur Rahman, QHSS Head Manager Hutama Karya Infrastruktur, memaparkan berbagai strategi dan inovasi perusahaan dalam memastikan penerapan K3 di seluruh lini pekerjaan konstruksi.
Fu’ad menegaskan bahwa keselamatan kerja bagi HKI tidak lagi dipandang sebatas pemenuhan regulasi atau cost of doing business. K3 telah ditempatkan sebagai fondasi utama dalam menjalankan seluruh kegiatan bisnis perusahaan.
“QHSSE adalah prioritas kami. K3 sudah bertransformasi menjadi fondasi yang fundamental di lini bisnis kami dan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” ujar Fu’ad dalam sesi presentasi.
Menurutnya, komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan sistem yang terstruktur, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, hingga monitoring dan evaluasi. HKI juga menerapkan sejumlah mekanisme untuk memastikan pekerjaan berisiko tinggi telah melalui proses identifikasi dan pengendalian risiko sebelum dilaksanakan.
Salah satu penerapannya adalah Contractor Quality and Safety Management System (CQSMS) sebagai bagian dari proses seleksi dan pengendalian kontraktor. Perusahaan juga menerapkan 10 Safety Golden Rules yang telah menjadi pedoman sekaligus bagian dari budaya keselamatan di lingkungan kerja HKI.
Upaya tersebut turut tercermin dari hasil pengukuran tingkat kematangan budaya keselamatan. Fu’ad menyampaikan bahwa safety cultural maturity level HKI pada 2025 mencapai 4,4 dari skala 5, yang menunjukkan perkembangan budaya keselamatan menuju tingkat yang lebih proaktif.
Dalam pelaksanaan di lapangan, HKI mengembangkan berbagai perangkat pengawasan berbasis digital. Salah satunya melalui aplikasi yang memungkinkan pemantauan secara real-time terhadap near miss, tindakan tidak aman (unsafe action), maupun kondisi tidak aman (unsafe condition). Temuan tersebut kemudian diintegrasikan dengan mekanisme stop work authority sebagai bagian dari upaya pencegahan kecelakaan.
HKI juga memiliki program QHSC Pass yang menjadi salah satu instrumen untuk memastikan hasil pekerjaan memenuhi standar kualitas, kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan sebelum pekerjaan dinyatakan layak untuk diserahterimakan. Pemeriksaan mencakup aspek kualitas pekerjaan, kerapian, penerapan 5R, hingga kebersihan area kerja dari berbagai jenis limbah.
Selain pengawasan, perusahaan menjalankan program cost audit dengan mekanisme pertukaran atau kunjungan antarpengawas proyek. Program tersebut bertujuan menemukan best practice maupun ketidaksesuaian di masing-masing proyek. Praktik yang dinilai baik kemudian dapat direplikasi di proyek lainnya, sementara temuan ketidaksesuaian didokumentasikan sebagai lesson learned agar tidak kembali terjadi.
Dari sisi kepemimpinan, HKI juga mendorong penerapan good safety leadership dengan menempatkan project manager sebagai teladan dalam penerapan QHSS. Para pimpinan proyek diwajibkan aktif melakukan toolbox meeting, walkthrough lapangan, serta general safety talk untuk memastikan pesan keselamatan dipahami seluruh pekerja.
Fu’ad menambahkan, digitalisasi juga dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi keselamatan. Setiap proyek diwajibkan melaksanakan quality induction dan safety induction dengan memanfaatkan materi visual dan video agar informasi keselamatan lebih mudah dipahami pekerja di lapangan.
HKI juga menerapkan pemeriksaan kondisi pekerja sebelum memulai aktivitas melalui daily routine check, termasuk safety alcohol check sebagai bagian dari deteksi dini terhadap risiko yang dapat memengaruhi keselamatan kerja. Sementara itu, berbagai indikator keselamatan seperti unsafe action, unsafe condition, dan MTC dipantau melalui statistic board yang terintegrasi dengan sistem digital perusahaan.
Melalui berbagai langkah tersebut, HKI menunjukkan bahwa penguatan budaya K3 tidak hanya dilakukan melalui kebijakan, tetapi juga melalui kepemimpinan, pengawasan, digitalisasi, inovasi, serta keterlibatan aktif pekerja di lapangan.
Komitmen tersebut sejalan dengan semangat ISEA 2026 yang mendorong perusahaan untuk membangun sistem keselamatan yang lebih prediktif, berkelanjutan, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mampu menghadapi tantangan masa depan. *** (da)




























