First Indonesia Magazine – PT Marina Logistik Sejahtera memaparkan komitmennya dalam memperkuat penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) melalui sistem digital, predictive safety, serta perlindungan pekerja dalam penjurian Indonesia Safety Excellence Award (ISEA) 2026 yang digelar secara daring, Rabu (5/8).
Ajang bertema “Advancing Predictive & Sustainable Safety in the Digital and Climate Era” ini menjadi wadah apresiasi bagi perusahaan yang unggul dalam kepemimpinan K3, inovasi, budaya keselamatan, transformasi digital, dan keberlanjutan.
Dalam sesi penjurian tersebut, PT Marina Logistik Sejahtera diwakili Internal Manager Operasional Captain Anton dan DPA/QMR/K3LL, Rizki Mei.
Rizki Mei menjadi pemapar utama yang menjelaskan berbagai strategi dan program K3 perusahaan, mulai dari komitmen manajemen, sistem keselamatan digital, predictive safety, budaya keselamatan hingga aspek ESG dan perubahan iklim.
Rizki Mei mengatakan, kesehatan, keselamatan, dan perlindungan lingkungan menjadi prioritas utama perusahaan. Komitmen tersebut tidak hanya ditetapkan di tingkat direksi, tetapi juga disosialisasikan kepada seluruh pekerja, baik pekerja darat maupun kru kapal.
“Komitmen kami, setiap kru atau setiap karyawan laut yang bekerja setelah itu off board kita lakukan induction. Begitu pun rekan-rekan kru laut yang akan on board akan dilakukan induction,” ujar Rizki Mei dalam pemaparannya.
Menurutnya, perusahaan juga menerapkan kebijakan Stop Work Authority (SWA) sebagai bagian dari upaya memberikan kewenangan kepada pekerja untuk menghentikan pekerjaan apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan keselamatan.
Dari sisi kinerja K3, Rizki Mei memaparkan bahwa perusahaan telah mencatat lebih dari 1 juta jam kerja selamat sejak 2020 hingga Juli 2026. Perusahaan juga memperoleh penghargaan terkait kecelakaan nihil dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.
Selain itu, PT Marina Logistik Sejahtera menerapkan sejumlah standar dan sistem manajemen, termasuk ISO 14001 dan ISO 45001. Perusahaan juga tengah mempersiapkan pelaksanaan audit eksternal Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang ditargetkan paling lambat pada kuartal pertama 2027.
Pada aspek digitalisasi, perusahaan memanfaatkan Google Form untuk pelaporan near miss dan bahaya. Sistem tersebut dilengkapi dengan platform yang digunakan kontraktor atau pengguna jasa untuk membantu merekap laporan kondisi keselamatan dari lapangan.
“Untuk pelaporan itu minimal dua, kemudian dari karyawan laut atau kru itu minimal 10 program setiap bulannya,” kata Rizki Mei.
Pemantauan keselamatan juga dilakukan melalui CCTV dan sistem GPS kapal. Perusahaan menggunakan sejumlah sistem fleet GPS untuk memantau posisi, kecepatan, serta koordinat kapal secara berkala. Sementara pengelolaan dokumen kapal dan kantor dilakukan melalui sistem digital sehingga status dokumen dapat dipantau, termasuk masa berlaku dan proses perpanjangannya.
Untuk mendukung predictive safety, perusahaan juga memberikan perhatian terhadap potensi kelelahan pekerja. Salah satunya melalui rest hour record yang dilaporkan setiap hari, termasuk pemantauan kondisi kesehatan kru untuk memastikan pekerja berada dalam kondisi fit to work.
Selain faktor manusia, aspek keandalan peralatan juga dipantau melalui Plan Maintenance System (PMS). Pemeriksaan dilakukan terhadap mesin utama hingga critical spare parts kapal, dengan pelaporan dan evaluasi secara berkala.
Rizki Mei juga menjelaskan penerapan Safety Work Reporting (SWR) atau Stop Work Authority yang memungkinkan seluruh kru, mulai dari jurumudi hingga nakhoda, menyampaikan laporan terkait kondisi yang dinilai berpotensi membahayakan.
Di sisi lain, perusahaan memperkuat perhatian terhadap kesehatan mental dan keselamatan psikologis pekerja. Program yang dilakukan antara lain pendekatan langsung kepada kru, kegiatan keagamaan, pemeriksaan kesehatan, serta kerja sama dengan rumah sakit dan klinik.
Manajemen juga melakukan safety walkthrough untuk mendengarkan langsung kondisi dan masukan dari pekerja di kapal. Direktur utama turut melakukan inspeksi terhadap kelayakan peralatan keselamatan dan verifikasi dokumen, dengan temuan yang kemudian ditindaklanjuti.
Perusahaan juga memberikan penghargaan kepada kru yang dinilai memiliki kontribusi dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja.
Pada aspek keberlanjutan, PT Marina Logistik Sejahtera turut memaparkan upaya efisiensi penggunaan sumber daya. Perusahaan mencatat penggunaan listrik pada 2025 sebesar 47.578 KWh atau turun 7,8 persen, sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan mendukung agenda keberlanjutan perusahaan.
Melalui berbagai program tersebut, PT Marina Logistik Sejahtera menegaskan upayanya untuk membangun sistem K3 yang tidak hanya berorientasi pada pencegahan kecelakaan, tetapi juga mengedepankan pendekatan prediktif, pemanfaatan teknologi digital, perlindungan pekerja, serta keberlanjutan lingkungan. *** (da)





































