First Indonesia Magazine- Penjurian Indonesia Safety Excellence Award (ISEA) 2026 yang digelar secara daring, Rabu (12/08), kembali menjadi wadah apresiasi bagi perusahaan yang menunjukkan keunggulan dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Mengusung tema “Advancing Predictive & Sustainable Safety in the Digital and Climate Era”, ajang ini menyoroti kepemimpinan K3, inovasi, penguatan budaya keselamatan, transformasi digital, serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

Dalam sesi penjurian, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) VI Balongan memaparkan berbagai program unggulan dalam mengantisipasi risiko dan mencegah potensi kecelakaan besar di lingkungan operasional kilang.

Manager PT Pertamina Patra Niaga RU VI Balongan, Muhammad Arifin, mengatakan pihaknya terus memperkuat pengelolaan keselamatan melalui sejumlah program yang mencakup pencegahan kejadian besar, pengendalian risiko operasi, keberlanjutan, kesehatan pekerja, hingga inovasi untuk meningkatkan budaya keselamatan.

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Process Safety Fundamental (PSF). Program tersebut bertujuan memastikan seluruh pekerja, khususnya personel produksi dan maintenance, memahami aturan dasar keselamatan proses guna mencegah terlepasnya fluida proses ke lingkungan.

Pemahaman pekerja terhadap PSF diperkuat melalui sosialisasi, workshop, rapat rutin, broadcast, hingga penggunaan videotron di area kerja. Pertamina Patra Niaga RU VI Balongan juga melakukan survei pemahaman untuk mengidentifikasi kesenjangan kompetensi dan menentukan langkah perbaikan.

Selain itu, perusahaan menerapkan Process Safety Performance Indicator (PSPI) untuk mengukur kinerja keselamatan proses. Sistem tersebut menggunakan sejumlah tingkatan indikator, termasuk leading indicator yang mengukur kinerja elemen dalam Process Safety Management System (PSM).

Penguatan budaya keselamatan juga dilakukan melalui Process Safety Awareness, yang mendorong pekerja berperan aktif sebagai hazard hunter. Pekerja didorong untuk menemukan kondisi tidak standar terkait keselamatan proses, melakukan mitigasi, serta melaporkannya kepada pihak terkait. Pekerja yang aktif melakukan pelaporan dan tindak lanjut juga mendapatkan apresiasi secara berkala.

Dari sisi kesiapan kompetensi, RU VI Balongan menerapkan Operator Training Simulator (OTS). Program ini memberikan simulasi berbagai kondisi transien yang mungkin terjadi dalam operasi, termasuk startup, shutdown, troubleshooting, kondisi darurat, optimasi proses, hingga pengelolaan alarm.

Sebelum ditugaskan sebagai panelman, operator diwajibkan mengikuti dan menyelesaikan pelatihan tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memastikan operator memiliki kesiapan menghadapi kondisi operasi normal maupun situasi tidak normal.

RU VI Balongan juga mengembangkan Barrier Management System untuk mengidentifikasi skenario yang berpotensi menimbulkan kejadian besar. Melalui sistem ini, perusahaan menentukan peralatan dan aktivitas yang bersifat kritikal, kemudian menyusun performance standard sebagai acuan dalam memastikan efektivitas setiap elemen pengendalian risiko.

Pemanfaatan teknologi turut diperkuat melalui Excellent Reliability System, sebuah sistem berbasis web yang digunakan untuk memantau kondisi peralatan di area kilang. Sistem ini membantu manajemen dalam mengambil keputusan terkait pemeliharaan, turnaround, maupun kalibrasi peralatan, termasuk peralatan kritikal dan safety critical element.

Untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, RU VI Balongan juga memiliki Integrated Fire Readiness System. Aplikasi tersebut memuat data dan kondisi berbagai peralatan penanggulangan keadaan darurat, seperti fire pump, fire truck, fire suppress system, fire extinguisher, hingga sistem deteksi dan perlindungan kebakaran.

Pertamina Patra Niaga RU VI Balongan juga melakukan peningkatan sistem proteksi kebakaran dari pendekatan defensif menuju offensive fire protection system. Salah satunya dengan menyiapkan foam monitor yang dapat digunakan untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran pada tangki.

Sementara dalam pengendalian risiko yang melibatkan kontraktor, perusahaan menerapkan Contractor Safety Management System (CSMS). Sistem ini mencakup proses screening tingkat risiko, prakualifikasi kontraktor, project assessment sebelum pekerjaan, pemantauan selama pekerjaan, hingga evaluasi akhir. Hasil evaluasi menjadi salah satu pertimbangan bagi kontraktor untuk mengikuti pekerjaan berikutnya.

Digitalisasi juga diterapkan dalam kegiatan operasional melalui Basic Operation Care (BOC) dan digital patrol. Operator menggunakan perangkat digital dan QR code untuk melakukan pemeriksaan parameter peralatan di lapangan. Data hasil pemeriksaan kemudian terintegrasi dalam aplikasi sehingga setiap deviasi dapat dipantau dan ditindaklanjuti secara lebih cepat.

Selain itu, CCTV Command Center digunakan untuk memantau kondisi area kilang secara terpusat. Keberadaan sistem tersebut memungkinkan operator melakukan pemantauan terhadap kondisi operasional dan segera menginformasikan apabila ditemukan kondisi tidak standar yang membutuhkan penanganan.

Berbagai inovasi tersebut menunjukkan upaya RU VI Balongan dalam mengembangkan sistem keselamatan yang tidak hanya berorientasi pada pencegahan insiden, tetapi juga pada kemampuan memprediksi risiko, meningkatkan kesiapan pekerja, memperkuat keandalan peralatan, serta memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung keselamatan yang berkelanjutan. ***(da)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here