First Indonesia Magazine – PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memaparkan penguatan sistem keselamatan berbasis teknologi dalam penjurian Indonesia Safety Excellence Award (ISEA) 2026 yang digelar secara daring, Senin (3/8). Ajang bertema “Advancing Predictive & Sustainable Safety in the Digital and Climate Era” ini menjadi wadah apresiasi bagi perusahaan yang unggul dalam kepemimpinan K3, inovasi, budaya keselamatan, serta transformasi digital dan keberlanjutan.
Dalam sesi penjurian, Indriyani Kepala Departemen Keselamatan dan K3L, PT Transportasi Jakarta, menjelaskan bahwa Transjakarta mengintegrasikan aspek keselamatan, teknologi, kompetensi sumber daya manusia, hingga tata kelola dalam satu kerangka keselamatan transportasi.
“Keselamatan itu adalah satu budaya yang harus dimulai dari pimpinan organisasi, bukan dari Departemen Safety, bukan dari auditor, bukan dari investigator, tetapi dari pimpinan,” ujar Indriyani.
Menurutnya, Transjakarta memiliki Transportation Safety Framework yang mengintegrasikan keselamatan pelanggan dan pengguna jalan, pramudi, armada, lintasan, serta kesiapsiagaan keadaan darurat. Kerangka tersebut diperkuat oleh komitmen manajemen, budaya keselamatan, kompetensi SDM, serta digitalisasi teknologi.
Salah satu implementasi digital dilakukan melalui aplikasi SIAGA yang digunakan untuk melaporkan potensi bahaya di lingkungan kerja, mulai dari depo, kantor pusat hingga halte. Sistem tersebut membantu proses identifikasi unsafe action dan unsafe condition sejak dini sehingga laporan dapat dipantau dan ditindaklanjuti oleh inspektor keselamatan.
Indriani menilai digitalisasi keselamatan juga harus diikuti dengan penguatan keamanan teknologi informasi. Pasalnya, gangguan terhadap sistem digital dapat berdampak langsung terhadap operasional maupun pengawasan keselamatan.
“Di era digital sekarang keamanan IT menjadi kunci untuk menjaga data. Ketika terjadi gangguan atau serangan siber, hal tersebut dapat berpengaruh terhadap pemantauan keselamatan maupun kesehatan kerja,” jelasnya.
Dalam presentasinya, Transjakarta menekankan bahwa serangan siber berpotensi mengganggu sejumlah fungsi penting, seperti pemantauan perilaku tidak aman pramudi, penjadwalan pramudi berbasis risiko, pengendalian armada, pusat data operasional, hingga layanan informasi pelanggan. Karena itu, perusahaan memperkuat pengamanan jaringan dan pusat data, kontrol akses, perlindungan data pelanggan, pemantauan keamanan siber, serta sistem deteksi dan respons terhadap potensi serangan.
Selain keamanan digital, Transjakarta juga mengembangkan Syntra, sistem manajemen pengendalian operasi bus yang menjadi bagian dari sistem keamanan prediktif berbasis data. Teknologi ini digunakan untuk mendeteksi risiko sekaligus membantu pengendalian operasional secara lebih dini.
Melalui Syntra, Transjakarta memanfaatkan Advanced Driver Assistance System (ADAS) dan Driver Monitoring System (DMS). ADAS digunakan untuk mendeteksi objek dan jarak dengan kendaraan lain, perpindahan jalur, serta batas kecepatan. Sementara DMS membantu mendeteksi kelelahan pramudi, penggunaan telepon genggam, kurangnya perhatian, hingga perilaku seperti merokok dan tidak menggunakan sabuk pengaman.
“Sintra kami rancang sebagai sistem keamanan prediktif untuk mendeteksi risiko dan mengendalikan operasional. Ketika pramudi menguap atau melakukan tindakan yang tidak safety, kami dapat melakukan komunikasi dua arah,” kata Indriyani.
Menurut dia, pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya Transjakarta mengubah pendekatan keselamatan dari sekadar respons terhadap insiden menjadi kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan risiko sejak awal.
Penguatan sistem keselamatan juga dilakukan melalui penerapan berbagai standar nasional dan internasional. Transjakarta menerapkan sistem manajemen terintegrasi, termasuk ISO 45001 untuk sistem manajemen K3 dan ISO 39001 untuk keselamatan lalu lintas. Perusahaan juga mengembangkan ISO 22301 terkait keberlangsungan bisnis serta ISO 27001 untuk sistem manajemen keamanan informasi.
Di sisi keberlanjutan, Transjakarta turut melakukan elektrifikasi armada. Berdasarkan materi presentasi, hingga 2025 Transjakarta telah mengoperasikan 500 bus listrik sebagai bagian dari upaya mendorong transportasi publik yang lebih berkelanjutan dan mengurangi emisi karbon.
Melalui kombinasi budaya keselamatan, digitalisasi, keamanan siber, teknologi prediktif, dan elektrifikasi armada, Transjakarta menempatkan teknologi sebagai salah satu pengungkit utama dalam membangun sistem keselamatan transportasi yang adaptif dan berkelanjutan. *** (da)





































