First Indonesia Magazine- Indonesia Safety Excellence Award (ISEA) 2026 yang digelar secara daring, Senin (03/08), kembali memasuki tahap penjurian. Ajang bertema “Advancing Predictive & Sustainable Safety in the Digital and Climate Era” ini menjadi wadah apresiasi bagi perusahaan yang unggul dalam kepemimpinan K3, inovasi, budaya keselamatan, serta transformasi digital dan keberlanjutan.

Dalam sesi penjurian tersebut, PT Wasesa Line memaparkan komitmennya dalam memperkuat keselamatan dan kesehatan kerja melalui penerapan sistem manajemen K3, pemanfaatan teknologi, hingga pengembangan sistem keselamatan prediktif.

Perwakilan PT Wasesa Line, Rizki Mei, selaku DPA/QMR/K3LL, menjelaskan bahwa perusahaan bergerak di bidang jasa transportasi laut, keagenan kapal, serta mendukung manajemen perkapalan dengan wilayah operasi di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Menurut Rizki, keselamatan, kesehatan, dan perlindungan lingkungan menjadi prioritas utama perusahaan. Komitmen tersebut tidak hanya dituangkan dalam kebijakan, tetapi juga diterapkan kepada seluruh pekerja, baik kru laut maupun karyawan darat.

“Keselamatan, kesehatan, keamanan, dan lingkungan menjadi tanggung jawab setiap individu dalam menjalankan aktivitas kerja,” ujar Rizki dalam pemaparannya.

Dalam penerapan sistem K3, perusahaan telah menjalankan sejumlah program, antara lain struktur Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3), pelaporan rutin kegiatan K3, pemeriksaan kesehatan berkala, hingga penerapan standar ISO 9001, ISO 14001 dan ISO 45001.

Rizki menyampaikan, perusahaan juga terus meningkatkan penerapan sistem manajemen K3. Meski sertifikasi SMK3 belum dimiliki, sejumlah program dan ketentuan terkait SMK3 telah diimplementasikan dan ditargetkan untuk dikembangkan lebih lanjut.

Pada aspek keselamatan prediktif, PT Wasesa Line memanfaatkan sejumlah perangkat dan sistem untuk memantau kondisi operasional kapal. Pelaporan potensi bahaya dan near miss telah dilakukan secara digital menggunakan Google Form, sementara pemantauan dan pengolahan data juga masih didukung sistem Excel.

Perusahaan menetapkan target pelaporan bahaya bagi kru atau pekerja laut, dengan setiap individu diharapkan menyampaikan sedikitnya 10 laporan setiap bulan. Langkah tersebut dilakukan untuk mendorong keterlibatan pekerja dalam mengidentifikasi potensi risiko sebelum berkembang menjadi insiden.

Selain itu, setiap kapal dilengkapi CCTV untuk memantau aktivitas operasional serta GPS untuk memonitor pergerakan kapal, kecepatan, dan kondisi cuaca. Perusahaan juga menerapkan sistem pemantauan terkait kelelahan pekerja melalui pencatatan rest hour.

“Setiap hari kru melaporkan rest hour record. Waktu kerja maksimal 12 jam dan lebih dari itu tidak diperbolehkan,” jelas Rizki.

Upaya perlindungan pekerja juga dilakukan melalui pemeriksaan kondisi kesehatan harian, pemantauan peralatan kapal melalui Planned Maintenance System (PMS), serta penerapan prosedur kerja ketika menghadapi kondisi cuaca buruk. Sistem tersebut digunakan untuk memastikan kesiapan pekerja sekaligus kelayakan peralatan sebelum digunakan.

Dari sisi budaya keselamatan, perusahaan menerapkan Stop Work Authority (SWA) yang memberikan ruang kepada pekerja untuk menghentikan pekerjaan apabila menemukan kondisi yang dinilai berisiko. Penguatan budaya tersebut juga dilakukan melalui safety induction, pelatihan internal, safety walkthrough, management visit, hingga inspeksi langsung oleh pimpinan perusahaan.

Rizki menekankan bahwa komitmen terhadap keselamatan tidak berhenti pada kebijakan tertulis, tetapi harus diwujudkan melalui keterlibatan langsung manajemen di lapangan.

“Komitmen bukan hanya tertulis, tetapi langsung dilakukan melalui kunjungan dan inspeksi ke kapal,” katanya.

Selain keselamatan, aspek keberlanjutan turut menjadi bagian dari strategi perusahaan. PT Wasesa Line melakukan berbagai upaya efisiensi sumber daya, termasuk pemanfaatan water maker untuk mengolah air laut menjadi air tawar di kapal.

Perusahaan juga mencatat penurunan penggunaan listrik sebesar 7,8 persen pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara penggunaan bahan bakar turun sekitar 10,3 persen dibandingkan 2024. Penggunaan bahan bakar tersebut dipantau melalui fuel monitoring system.

Dalam menghadapi risiko lingkungan dan iklim, perusahaan juga menyiapkan sejumlah fasilitas untuk mengantisipasi heat stress, seperti penyediaan air dingin dan pendingin udara di berbagai area kapal. Pengelolaan limbah B3 serta kesiapan menghadapi potensi tumpahan minyak juga menjadi bagian dari upaya perlindungan lingkungan.

Melalui berbagai program tersebut, PT Wasesa Line berupaya membangun sistem keselamatan yang tidak hanya berorientasi pada pencegahan kecelakaan, tetapi juga pada kemampuan mengidentifikasi risiko lebih awal, meningkatkan keterlibatan pekerja, memanfaatkan teknologi, serta memperkuat kesiapan menghadapi tantangan operasional dan perubahan iklim. *** (da)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here