Wawancara Penjurian Indonesia Sustaianbility Award 2026 PT Nusa Karya Arindo
Wawancara Penjurian Indonesia Sustaianbility Award 2026 PT Nusa Karya Arindo

FirstIndonesiaMagz.id– PT Nusa Karya Arindo (NKA) mengikuti sesi wawancara penjurian Indonesia Sustainability Award (ISA) 2026 sebagai bagian dari proses penilaian program keberlanjutan perusahaan. Dalam kesempatan tersebut, paparan disampaikan oleh Fitrawanti Maulud selaku Community Development SO, dengan didampingi Vegy Sagita selaku Social Investment Manager. Keduanya mempresentasikan komitmen perusahaan dalam mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam operasional bisnis pertambangan nikel sekaligus program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

PT Nusa Karya Arindo menegaskan bahwa keberlanjutan tidak hanya menjadi bagian dari kepatuhan perusahaan, tetapi telah menjadi strategi utama dalam menciptakan nilai bersama bagi perusahaan, masyarakat, dan lingkungan.

Dalam paparannya, Fitrawanti Maulud menjelaskan bahwa NKA telah bertransformasi dari perusahaan penyedia alat berat dan kontraktor pertambangan menjadi perusahaan pertambangan bijih nikel yang berkomitmen pada praktik pertambangan berkelanjutan.

“Kami mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam seluruh rantai nilai pertambangan agar pertumbuhan bisnis dapat berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Fitrawanti.

Saat ini PT Nusa Karya Arindo beroperasi di Site Moronopo, Desa Soasangaji, Kecamatan Kota Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara. Perusahaan mengelola wilayah konsesi seluas 20.763 hektare dengan area tambang aktif 19,59 hektare dan area reklamasi mencapai 23,4 hektare. Wilayah pemberdayaan masyarakat meliputi lima desa binaan, yakni Maba Soa Sangaji, Wailukum, Maba Sangaji, Soagimalaha, dan Tewil.

Dalam sesi wawancara, tim NKA memaparkan visi ESG perusahaan yang berfokus pada penciptaan pertumbuhan berkelanjutan melalui tiga pilar utama: lingkungan, sosial, dan tata kelola. Perusahaan menargetkan terciptanya praktik pertambangan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, masyarakat yang mandiri dan inklusif secara ekonomi, serta tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Menurut Fitrawanti, implementasi ESG di NKA diwujudkan melalui berbagai program unggulan, antara lain reklamasi dan revegetasi lahan, pengelolaan biodiversitas, Green Nursery Partnership, pengembangan sektor pertanian dan peternakan, Sentra Ekonomi Perikanan Berkelanjutan (SEPIA), hingga penguatan kelompok rentan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap program tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga menciptakan shared value yang berkelanjutan bagi masyarakat dan perusahaan,” jelasnya.

Salah satu program yang menjadi fokus paparan adalah Pengembangan Pupuk Kompos Ampas Sagu, sebuah inovasi pemberdayaan masyarakat yang memanfaatkan limbah sagu menjadi produk bernilai ekonomi. Program ini dilaksanakan oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) Halmahera Farm di Desa Maba Sangaji selama periode November 2025 hingga April 2026.

Fitrawanti menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari dua kebutuhan utama, yaitu tingginya volume limbah ampas sagu yang belum termanfaatkan secara optimal serta meningkatnya kebutuhan pupuk organik untuk sektor pertanian, perkebunan, reklamasi, dan penghijauan.

“Kami melihat limbah ampas sagu bukan sebagai masalah, tetapi sebagai peluang ekonomi yang mampu menciptakan manfaat lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat,” ungkapnya.

Melalui proses pengolahan dan pengomposan, limbah ampas sagu diubah menjadi pupuk kompos siap pakai yang ramah lingkungan, meningkatkan kesuburan tanah, serta mendukung pertumbuhan tanaman. Produk tersebut dipasarkan kepada perusahaan, masyarakat, instansi pemerintah, dan kelompok tani setempat.

Dari sisi lingkungan, program ini berkontribusi pada pengurangan limbah ampas sagu, mendukung kegiatan reklamasi dan penghijauan, serta memperkuat praktik ekonomi sirkular di wilayah operasional perusahaan. Sementara dari aspek tata kelola, kelompok didorong menerapkan pencatatan produksi dan keuangan yang lebih transparan serta membangun kolaborasi yang lebih kuat antara perusahaan dan masyarakat.

Melalui wawancara penjurian ISA 2026, PT Nusa Karya Arindo menunjukkan bahwa implementasi ESG bukan sekadar konsep, melainkan telah diterjemahkan menjadi program-program nyata yang memberikan dampak terukur bagi lingkungan dan masyarakat. Program Pengembangan Pupuk Kompos Ampas Sagu menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi sosial dan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan tujuan bisnis perusahaan.

Menutup sesi wawancara, Vegy Sagita selaku Social Investment Manager menyampaikan apresiasi kepada dewan juri dan penyelenggara Indonesia Sustainability Award 2026 atas kesempatan yang diberikan kepada PT Nusa Karya Arindo untuk berbagi praktik keberlanjutan yang tengah dikembangkan perusahaan.

“Terima kasih kepada seluruh dewan juri dan penyelenggara Indonesia Sustainability Award 2026. Bagi kami, keikutsertaan dalam ajang ini bukan semata-mata untuk memperoleh penghargaan, tetapi merupakan sebuah ikhtiar untuk mendapatkan penilaian yang objektif dari pihak eksternal sekaligus menambah wawasan dan ilmu baru terkait implementasi CSR dan ESG,” ujar Vegy.

Ia menambahkan bahwa perjalanan PT Nusa Karya Arindo dalam mengelola program CSR dan ESG masih relatif muda dibandingkan perusahaan-perusahaan lain yang telah lebih dahulu berpengalaman.

“NKA sendiri baru sekitar tiga tahun menekuni dunia CSR dan ESG. Karena itu, kami memandang forum ini sebagai ruang belajar yang sangat berharga. Harapan kami, di usia yang masih muda dalam perjalanan keberlanjutan ini, kami dapat memperoleh masukan, arahan, dan bimbingan dari para dewan juri sehingga program-program yang kami jalankan ke depan dapat semakin memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat, lingkungan, serta perusahaan,” tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here