FirstIndonesiaMagz.id– Pada Kamis (29/01), PT Pertamina Lubricants telah mengikuti kegiatan wawancara penjurian Indonesia Fire Safety Excellence Award (IFSEA) 2026 yang diselenggarakan oleh Majalah First Indonesia bekerja sama dengan MPK2I (Masyarakat Profesi Keselamatan Kebakaran Indonesia) serta didukung oleh beberapa asosiasi keselamatan serta kementerian dan lembaga terkait, sebagai upaya mendorong penerapan sistem keselamatan kebakaran yang unggul dan berkelanjutan di berbagai sektor industri.
Indonesia Fire Safety Excellence Award (IFSEA) 2026 merupakan ajang apresiasi nasional yang dirancang sebagai platform pengakuan strategis bagi perusahaan dan institusi yang menunjukkan komitmen nyata dalam perlindungan aset, keselamatan jiwa, dan keberlangsungan bisnis melalui penerapan sistem keselamatan kebakaran yang unggul.
IFSEA 2026 tidak hanya berfokus pada aspek kepatuhan teknis, tetapi juga menempatkan fire safety sebagai bagian dari manajemen risiko perusahaan, business continuity, serta tata kelola organisasi yang bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, IFSEA 2026 menjadi wadah benchmarking nasional, pembelajaran praktik terbaik, serta kolaborasi antara dunia usaha, regulator, dan praktisi keselamatan kebakaran.
Dalam kegiatan IFSEA 2026 ini akan melalui beberapa tahap meliputi kegiatan penjurian dan penilaian dari para dewan juri serta tahap final-nya perolehan penghargaan.
PT Pertamina Lubricants memaparkan implementasi Integrated Fire Protection and Emergency Preparedness. Paparan disampaikan langsung oleh Direktur Utama PT Pertamina Lubricants, Sigit Pranowo, didampingi jajaran manajemen HSSE dan komunikasi perusahaan, serta dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Supandi Syarwan, Muhammad Dawaman, dan Ridho Muhammad Dhani.
Dalam presentasinya, PT Pertamina Lubricants menegaskan bahwa sistem proteksi kebakaran bukan hanya bagian dari kepatuhan regulasi, tetapi merupakan investasi strategis dalam menjaga keberlangsungan bisnis dan keselamatan seluruh pemangku kepentingan.
“Kami memandang fire safety sebagai bagian dari business continuity strategy, bukan sekadar kewajiban administratif. Perlindungan manusia, aset, dan operasional harus berjalan seimbang dan terintegrasi,” ujar Sigit Pranowo saat sesi wawancara penjurian.
Ia menambahkan bahwa komitmen manajemen diwujudkan melalui kebijakan HSSE yang kuat, alokasi anggaran berkelanjutan, serta penguatan budaya keselamatan di seluruh lini perusahaan.
“Keandalan sistem tidak cukup jika tidak diiringi kesiapan SDM. Karena itu, kami memastikan pelatihan, simulasi, dan refresh kompetensi dilakukan secara berkala di seluruh unit kerja,” lanjutnya.
PT Pertamina Lubricants telah membangun infrastruktur proteksi kebakaran yang mencakup sistem alarm dan deteksi dini, jalur evakuasi dan assembly point, sprinkler otomatis, hydrant, hingga early warning system. Seluruh peralatan tersebut dipastikan dalam kondisi ready to use melalui inspeksi dan perawatan rutin.
Manager HSSE PT Pertamina Lubricants, Gatut Priyanggoda, menjelaskan bahwa perusahaan menerapkan pendekatan berbasis risiko dalam pengelolaan fire safety.
“Seluruh aset proteksi kebakaran kami mapping sesuai risiko masing-masing lokasi. Dengan pendekatan ini, level perlindungan dapat disesuaikan dengan karakteristik operasional di kantor pusat, production unit, maupun depot supply point,” jelas Gatut.
Ia menambahkan bahwa struktur organisasi keadaan darurat telah dibentuk di seluruh unit kerja, dilengkapi pedoman dan prosedur tanggap darurat untuk kondisi level 1 dan level 2.
Salah satu inovasi yang dipaparkan adalah integrasi sistem proteksi kebakaran ke dalam Computerized Maintenance Management System (CMMS) sebagai bagian dari Safety Environment Critical Equipment (SECE). Melalui sistem ini, seluruh aset proteksi kebakaran terdaftar, terjadwal preventive maintenance-nya, serta dapat dimonitor kondisi dan riwayatnya secara digital.
Selain itu, perusahaan juga mengimplementasikan fire suppression system berbasis clean agent seperti FM-200 dan inert gas yang mampu memadamkan api tanpa merusak peralatan elektronik serta aman bagi manusia dalam konsentrasi tertentu.
PT Pertamina Lubricants juga secara konsisten memberikan edukasi fire safety kepada pekerja, mitra kerja, kontraktor, dan tamu melalui pelatihan penggunaan APAR, kampanye keselamatan, serta sosialisasi berkala. Edukasi juga diperluas kepada masyarakat sekitar melalui simulasi tanggap darurat dan sistem peringatan dini.
Melalui pendekatan terintegrasi, PT Pertamina Lubricants menargetkan sistem fire safety yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di seluruh lokasi operasional. Standarisasi peralatan, pelatihan, serta sistem inspeksi dan audit terintegrasi menjadi fondasi utama dalam penerapan sistem ini.
“Kami ingin memastikan bahwa standar keselamatan yang sama dapat diterapkan secara konsisten di seluruh wilayah kerja. Dengan begitu, sistem ini tidak hanya efektif, tapi juga efisien dan adaptif,” tutup Sigit Pranowo.
Sebagai penutup paparan, Direktur Utama PT Pertamina Lubricants, Sigit Pranowo, menyampaikan apresiasi kepada dewan juri IFSEA 2026.
“Terima kasih kepada dewan juri yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengikuti proses penjurian IFSEA ini. Bagi Pertamina Lubricants, momen ini menjadi refleksi yang sangat baik untuk terus memperbaiki diri. Kami juga berterima kasih atas seluruh masukan yang diberikan oleh dewan juri. Bisnis memang penting, namun yang lebih penting adalah bagaimana kita bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ujar Sigit Pranowo.
Dengan implementasi sistem proteksi kebakaran yang andal dan terstandar, PT Pertamina Lubricants menegaskan bahwa fire safety merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi keberlanjutan perusahaan serta upaya menjaga ketahanan operasional jangka panjang.





























