FirstIndonesiaMagz.id– Pada Jumat (30/01), PT Siloam International Hospitals Tbk (RS Siloam) telah mengikuti kegiatan wawancara penjurian Indonesia Fire Safety Excellence Award (IFSEA) 2026 yang diselenggarakan oleh Majalah First Indonesia bekerja sama dengan MPK2I (Masyarakat Profesi Keselamatan Kebakaran Indonesia) serta didukung oleh beberapa asosiasi keselamatan serta kementerian dan lembaga terkait, sebagai upaya mendorong penerapan sistem keselamatan kebakaran yang unggul dan berkelanjutan di berbagai sektor industri.
Indonesia Fire Safety Excellence Award (IFSEA) 2026 merupakan ajang apresiasi nasional yang dirancang sebagai platform pengakuan strategis bagi perusahaan dan institusi yang menunjukkan komitmen nyata dalam perlindungan aset, keselamatan jiwa, dan keberlangsungan bisnis melalui penerapan sistem keselamatan kebakaran yang unggul.
IFSEA 2026 tidak hanya berfokus pada aspek kepatuhan teknis, tetapi juga menempatkan fire safety sebagai bagian dari manajemen risiko perusahaan, business continuity, serta tata kelola organisasi yang bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, IFSEA 2026 menjadi wadah benchmarking nasional, pembelajaran praktik terbaik, serta kolaborasi antara dunia usaha, regulator, dan praktisi keselamatan kebakaran.
Dalam kegiatan IFSEA 2026 ini akan melalui beberapa tahap meliputi kegiatan penjurian dan penilaian dari para dewan juri serta tahap final-nya perolehan penghargaan.
RS Siloam Group memaparkan penerapan Sistem Keselamatan Terpadu dalam ajang Indonesia Fire & Safety Excellence Award (IFSEA) 2026. Paparan disampaikan oleh Maharani Perdini selaku Corporate HSE Siloam Hospitals Group, didampingi Atika Ayu Kriswijayanti selaku OHS Coordinator Siloam Semanggi dan Devand Adyllond selaku OHS Coordinator Siloam Kebon Jeruk. Proses penjurian dilakukan oleh Supandi Syarwan dan Christofel P. Simanjuntak.
Dalam paparannya, Siloam Hospitals menegaskan komitmen untuk mewujudkan lingkungan rumah sakit yang aman, siap siaga, dan bebas risiko kebakaran, dengan keselamatan pasien serta sumber daya manusia sebagai prioritas utama.
“Rumah sakit memiliki kompleksitas risiko yang tinggi, mulai dari tingginya arus pasien, penggunaan peralatan listrik dan oksigen, hingga evakuasi pasien yang tidak mandiri. Karena itu, sistem keselamatan harus dibangun secara terintegrasi, bukan parsial,” ujar Maharani Perdini saat sesi wawancara penjurian.
RS Siloam menerapkan strategi pencegahan kebakaran melalui identifikasi bahaya dan penilaian risiko berkala, pemetaan risiko tiap unit kerja, serta penerapan Fire Safety Risk Assessment (FSRA). Upaya ini diperkuat dengan pemasangan detektor asap dan alarm otomatis di seluruh area, pintu anti-panik, jalur evakuasi yang jelas, serta kebijakan internal seperti SOP pencegahan kebakaran dan larangan merokok total di lingkungan rumah sakit.
Maharani Perdini juga menjelaskan bahwa pendekatan berbasis risiko menjadi fondasi utama sistem keselamatan kebakaran di Siloam.
“Setiap unit memiliki karakteristik risiko yang berbeda. ICU, radiologi, hingga ruang rawat inap memerlukan pengendalian khusus agar potensi kebakaran dapat dicegah sejak awal,” jelasnya.
Siloam Hospitals juga secara rutin menggelar pelatihan penggunaan APAR, simulasi evakuasi pasien tidak mandiri, serta fire drill tahunan bersama pemadam kebakaran. Seluruh karyawan, kontraktor, dan tenaga outsourcing wajib mengikuti edukasi keselamatan kebakaran minimal satu kali dalam setahun.
Maharani Perdini menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi kondisi darurat.
“Peralatan proteksi kebakaran tidak akan efektif tanpa kesiapan manusia. Karena itu, kami fokus membangun kesadaran seluruh staf agar memahami peran, prosedur, dan tindakan aman saat terjadi kebakaran,” ungkapnya.
Dalam presentasi tersebut, Siloam Hospitals juga memanfaatkan teknologi dan inovasi untuk memperkuat sistem keselamatan, antara lain sensor asap yang terintegrasi dengan panel kontrol keamanan, sistem monitoring tekanan air hydrant, serta integrasi sistem alarm dengan pusat manajemen fasilitas. Teknologi ini memungkinkan deteksi dini dan respons cepat terhadap potensi kebakaran secara terkoordinasi.
“Integrasi sistem alarm dengan pusat manajemen fasilitas membuat respons lebih cepat dan terkontrol, sehingga risiko meluasnya kebakaran dapat diminimalkan,” tambah Maharani.
Sepanjang periode 2024–2025, RS Siloam mencatat kinerja positif dengan capaian zero incident kebakaran, peningkatan kecepatan respons evakuasi, penurunan temuan audit internal, serta kepatuhan SOP di atas 95 persen. Program keselamatan kebakaran ini juga berdampak pada meningkatnya kepercayaan pasien dan pemangku kepentingan, perlindungan nyawa pasien dan staf, serta optimalisasi pelayanan medis tanpa gangguan.
Untuk menjaga keberlanjutan sistem, Siloam Hospitals menjalin kerja sama dengan pemadam kebakaran setempat, melakukan audit eksternal dengan konsultan fire safety, serta benchmarking dengan rumah sakit lain. Ke depan, perusahaan merencanakan peningkatan sistem deteksi dini berbasis IoT, sertifikasi kompetensi kebakaran bagi seluruh tim, serta simulasi evakuasi skala besar secara rutin.
Menutup sesi penjurian, Maharani Perdini menyampaikan bahwa tujuan utama sistem keselamatan terpadu adalah melindungi nyawa dan memastikan layanan kesehatan tetap berjalan optimal.
“Bagi kami, keselamatan bukan hanya soal kepatuhan, tetapi tentang bagaimana memastikan pasien dan tenaga medis dapat bekerja dan dirawat dalam lingkungan yang benar-benar aman. Zero casualty dan zero loss adalah komitmen yang terus kami jaga,” tutupnya.
Sebagai penutup, Maharani Perdini menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara dan dewan juri IFSEA.
“Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara dan dewan juri. Walaupun kami dinilai cukup baik, kami menyadari masih terdapat banyak kekurangan yang perlu terus kami perbaiki. Kami berharap apa yang telah kami sampaikan hari ini dapat menjadi bahan refleksi sekaligus mendorong kemajuan bagi perusahaan kami ke depan,” ujar Maharani Perdini.





























