FirstIndonesiaMagz.id– Selama bertahun-tahun, keselamatan kerja dipahami melalui pendekatan Safety-I, yaitu fokus pada pencegahan kesalahan dan kecelakaan. Model ini menekankan prosedur, kepatuhan, serta investigasi akar penyebab insiden. Namun, pendekatan ini sering kali reaktif dan melihat manusia sebagai sumber masalah.
Sejak 2012, Erik Hollnagel memperkenalkan konsep Safety-II, yang kemudian diperkaya oleh Sidney Dekker dengan Safety Differently dan Todd Conklin melalui Human and Organizational Performance (HOP). Intinya, keselamatan bukan sekadar ketiadaan kecelakaan, melainkan keberadaan kapasitas sistem dan individu untuk berhasil dalam berbagai kondisi.
Safety-II memandang pekerja sebagai solusi, bukan masalah. Alih-alih hanya belajar dari insiden, organisasi diajak untuk belajar dari pekerjaan sehari-hari yang mayoritas berjalan dengan baik. Dengan demikian, fokus bergeser dari “apa yang salah” menjadi “apa yang membuat pekerjaan berhasil”. Pendekatan ini menekankan resiliensi, yaitu kemampuan sistem untuk beradaptasi terhadap tekanan, keterbatasan, dan perubahan kondisi lapangan.
Karakteristik utama Safety-II antara lain:
- Proaktif: belajar sebelum terjadi insiden, bukan sesudahnya.
- Berbasis praktik nyata: mengamati Work-as-Done, bukan hanya Work-as-Imagined.
- No-blame culture: kesalahan manusia dianggap normal; solusi dicari melalui perbaikan sistem, bukan hukuman.
- Just Culture: membedakan antara kesalahan jujur dan kelalaian berat, sehingga pekerja tetap merasa aman untuk melapor.
- Frontliner sebagai sumber pengetahuan: karena mereka paling memahami risiko nyata di lapangan.
Dengan Safety-II, organisasi tidak hanya mengejar “zero incident” tetapi juga membangun kapasitas keberhasilan. Resilience engineering menempatkan setiap level—dari eksekutif hingga supervisor—sebagai penyedia kapasitas, penghilang hambatan, fasilitator keberhasilan, dan navigator performa. Indikator keselamatan pun bergeser dari lagging (jumlah kecelakaan) ke leading (aktivitas pencegahan, gemba walks, pelatihan, laporan near miss).
Kesimpulannya, Safety-II adalah paradigma baru yang menempatkan manusia sebagai pusat solusi dan menekankan pembelajaran dari pekerjaan sehari-hari. Dengan budaya adil, resiliensi, dan keterlibatan aktif pekerja, keselamatan tidak lagi sekadar aturan, melainkan pilihan sadar untuk melindungi hidup dan memastikan keberhasilan bersama.
Penulis : Pangestiarso (Anto) Nugrahanto




























