FirstIndonesiaMagz.id– Pada Jumat (23/01), PT Leighton Contractors Indonesia telah mengikuti kegiatan wawancara penjurian Indonesia Fire Safety Excellence Award (IFSEA) 2026 yang diselenggarakan oleh Majalah First Indonesia bekerja sama dengan MPK2I (Masyarakat Profesi Keselamatan Kebakaran Indonesia) serta didukung oleh beberapa asosiasi keselamatan serta kementerian dan lembaga terkait, sebagai upaya mendorong penerapan sistem keselamatan kebakaran yang unggul dan berkelanjutan di berbagai sektor industri.
Indonesia Fire Safety Excellence Award (IFSEA) 2026 merupakan ajang apresiasi nasional yang dirancang sebagai platform pengakuan strategis bagi perusahaan dan institusi yang menunjukkan komitmen nyata dalam perlindungan aset, keselamatan jiwa, dan keberlangsungan bisnis melalui penerapan sistem keselamatan kebakaran yang unggul.
IFSEA 2026 tidak hanya berfokus pada aspek kepatuhan teknis, tetapi juga menempatkan fire safety sebagai bagian dari manajemen risiko perusahaan, business continuity, serta tata kelola organisasi yang bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, IFSEA 2026 menjadi wadah benchmarking nasional, pembelajaran praktik terbaik, serta kolaborasi antara dunia usaha, regulator, dan praktisi keselamatan kebakaran.
Dalam kegiatan IFSEA 2026 ini akan melalui beberapa tahap meliputi kegiatan penjurian dan penilaian dari para dewan juri serta tahap final-nya perolehan penghargaan.
Komitmen kuat dalam pengendalian risiko kebakaran berbasis keselamatan listrik mengantarkan PT Leighton Contractors Indonesia tampil meyakinkan dalam ajang Indonesia Fire Safety Excellence Award (IFSEA) 2026. Melalui presentasi bertajuk “Not All Fires Start with Flames. Some Start with Electricity”, perusahaan memaparkan pendekatan komprehensif dalam mencegah kebakaran akibat bahaya kelistrikan di area konstruksi.
Paparan disampaikan oleh Fanny A Putri selaku Supervisor HSE dan Aulia Ramandha selaku Senior Engineer Environment, dengan pembukaan oleh Mark Potter, Senior Safety Manager.
Fanny A Putri menegaskan bahwa bahaya listrik masih menjadi salah satu pemicu kebakaran paling mematikan di sektor konstruksi.
“Banyak orang masih mengaitkan kebakaran dengan api terbuka. Padahal, berdasarkan data global, sebagian besar kebakaran di proyek konstruksi justru berawal dari kegagalan sistem kelistrikan. Karena itu, fokus kami adalah membangun budaya keselamatan yang dimulai sebelum api muncul,” ujar Fanny A Putri saat sesi penjurian
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa korsleting listrik menyumbang kerugian properti hingga ratusan miliar rupiah setiap tahun, serta meningkatkan risiko fatalitas akibat arc flash dan kontak dengan peralatan bertegangan.
Fanny A Putri melanjutkan bahwa Leighton Indonesia mengembangkan Electrical Safe System of Work (ESSW) sebagai fondasi pengendalian risiko listrik, yang diimplementasikan melalui Permit to Work dan Lock-Out Tag-Out (LOTO).
“Kami memastikan setiap pekerjaan listrik, baik permanen maupun sementara, hanya dapat dilakukan melalui izin kerja yang jelas, isolasi energi yang terverifikasi, serta penggunaan APD sesuai kategori risiko,” jelas Fanny dalam pemaparannya di hadapan dewan juri
Ia menambahkan, pelatihan LOTO dan kesadaran arc flash diberikan berjenjang, mulai dari pekerja terdampak, Competent Person in Charge of Work, hingga Authorized Person.
Monitoring, Simulasi, dan Respons Darurat
Sementara itu, Aulia Ramandha menyoroti pentingnya aspek monitoring dan kesiapsiagaan darurat dalam sistem keselamatan kebakaran.
“Pencegahan tidak cukup tanpa kesiapan menghadapi kondisi terburuk. Karena itu kami rutin menggelar simulasi kebakaran, mengevaluasi site emergency plan, serta memastikan ketersediaan fire point dan fasilitas medis di lokasi kerja,” ungkap Aulia.
Dalam kurun 2023–2024, Leighton Indonesia tercatat melaksanakan sejumlah fire drill dengan skenario kebakaran akibat korsleting dan arc flash, melibatkan lebih dari seribu pekerja serta dukungan dinas pemadam kebakaran setempat
Sebagai bagian dari perbaikan berkelanjutan, perusahaan juga memperkenalkan inovasi autoLOTO, sistem digital berbasis single line diagram dan QR code yang mempermudah identifikasi titik isolasi energi.
“Teknologi ini kami rancang untuk mengurangi kesalahan manusia, mempercepat proses isolasi, dan secara langsung menurunkan potensi kebakaran listrik,” tambah Fanny.
Selain itu, kampanye visual bertema “Arc Flash = Fire Hazard” serta program Women in Construction – Electrical Safety turut diperkenalkan untuk memperluas pemahaman risiko listrik di seluruh lapisan pekerja.
Presentasi Leighton Indonesia mendapat perhatian serius dari dewan juri yang terdiri atas Supandi Syarwan, Christofel P. Simanjuntak, dan Muhamad Dawaman.
Para juri menilai pendekatan yang menggabungkan kebijakan, implementasi lapangan, simulasi darurat, hingga inovasi digital sebagai praktik baik dalam pencegahan kebakaran di sektor konstruksi.
Mark Potter selaku Senior Safety Manager, menutup sesi penjurian dengan menyampaikan apresiasi kepada para juri.
“Terima kasih atas seluruh masukan dan pandangan yang sangat berharga dari Bapak-Bapak Dewan Juri. Saya merasa senang dan terhormat dapat terlibat dalam kegiatan ini. Semoga diskusi hari ini memberi manfaat bersama. Sampai jumpa kembali pada kesempatan berikutnya,” tutup Mark.
Melalui partisipasi di IFSEA 2026, Leighton Indonesia menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mematuhi standar keselamatan, tetapi juga membangun budaya kerja yang menyadari bahwa bahaya kebakaran bisa bermula dari hal yang tak terlihat seperti listrik.





























