FirstIndonesiaMagz.id– Sebuah kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (Very Large Crude Carrier/VLCC) milik Iran kembali berhasil melewati pengawasan Angkatan Laut Amerika Serikat pada Senin (4/5). Kapal tersebut kini terdeteksi berada di wilayah perairan Indonesia.
Pergerakan ini menambah daftar kapal tanker Iran yang berhasil memasuki perairan Indonesia, setelah sehari sebelumnya satu supertanker lain juga dilaporkan lolos dari blokade dan bergerak ke kawasan yang sama.
Informasi tersebut disampaikan oleh TankerTrackers.com melalui unggahan di media sosial X. Mereka menyebut kapal VLCC bernama DERYA (IMO: 9569700) berhasil menghindari pemantauan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Saat ini, kapal tersebut diketahui tengah melintasi Selat Lombok sambil membawa muatan minyak mentah asal Iran. Berdasarkan pelacakan, kapal itu diperkirakan menuju titik pertemuan di wilayah Kepulauan Riau.
Menurut laporan TankerTrackers, pada pertengahan April lalu kapal DERYA sempat berupaya mengirimkan sekitar 1,88 juta barel minyak ke India dalam masa pelonggaran sanksi, namun upaya tersebut tidak berhasil. Kapal kemudian melanjutkan perjalanan ke arah selatan, sementara sejumlah kapal sejenis lainnya justru dipaksa kembali ke Iran oleh Angkatan Laut AS.
Sebelumnya, kapal tanker Iran lain bernama HUGE (IMO: 9357183) yang membawa sekitar 1,9 juta barel minyak juga dilaporkan berhasil lolos dari pengawasan AS pada Sabtu (2/5). Kapal milik National Iranian Tanker Company itu sempat terlacak berada di lepas pantai Sri Lanka sebelum akhirnya memasuki perairan Indonesia.
Menariknya, kapal HUGE tidak mengaktifkan sistem identifikasi otomatis (Automatic Identification System/AIS) saat melintasi Selat Malaka, sehingga menyulitkan proses pemantauan.
Data dari TankerTrackers menunjukkan bahwa sepanjang April, sekitar 25 kapal tanker telah meninggalkan Iran. Dari jumlah tersebut, tujuh kapal dilaporkan dipaksa kembali oleh otoritas AS, sementara dua lainnya disita. Adapun sisanya berhasil mencapai tujuan masing-masing atau menuju titik pertemuan yang telah ditentukan.
Perkembangan ini menunjukkan dinamika baru dalam pengiriman minyak Iran di tengah ketatnya pengawasan dan sanksi internasional, serta meningkatnya aktivitas pelayaran di kawasan Asia Tenggara, termasuk perairan Indonesia.





























