FirstIndonesiaMagz.id– Pada Kamis (22/01), PT Transjakarta telah mengikuti kegiatan wawancara penjurian Indonesia Fire Safety Excellence Award (IFSEA) 2026 yang diselenggarakan oleh Majalah First Indonesia bekerja sama dengan MPK2I (Masyarakat Profesi Keselamatan Kebakaran Indonesia) serta didukung oleh beberapa asosiasi keselamatan serta kementerian dan lembaga terkait, sebagai upaya mendorong penerapan sistem keselamatan kebakaran yang unggul dan berkelanjutan di berbagai sektor industri.
Indonesia Fire Safety Excellence Award (IFSEA) 2026 merupakan ajang apresiasi nasional yang dirancang sebagai platform pengakuan strategis bagi perusahaan dan institusi yang menunjukkan komitmen nyata dalam perlindungan aset, keselamatan jiwa, dan keberlangsungan bisnis melalui penerapan sistem keselamatan kebakaran yang unggul.
IFSEA 2026 tidak hanya berfokus pada aspek kepatuhan teknis, tetapi juga menempatkan fire safety sebagai bagian dari manajemen risiko perusahaan, business continuity, serta tata kelola organisasi yang bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, IFSEA 2026 menjadi wadah benchmarking nasional, pembelajaran praktik terbaik, serta kolaborasi antara dunia usaha, regulator, dan praktisi keselamatan kebakaran.
Dalam kegiatan IFSEA 2026 ini akan melalui beberapa tahap meliputi kegiatan penjurian dan penilaian dari para dewan juri serta tahap final-nya perolehan penghargaan.
Paparan wawancara penjurian disampaikan langsung oleh Daud Joseph selaku Direktur Operasional PT Transjakarta, didampingi oleh Dindo Ricky Nelson S. Selaku Kepala Divisi Keselamatan dan Pengawasan Operasional, Eko Wahyudi selaku Kepala Divisi Operasional Bus, Erawan Hermansyah selaku Staf Ahli Direktur Operasional dan Keselamatan, serta Sri Suari selaku Tenaga Ahli.
Sesi wawancara dan penjurian ini dihadiri oleh dewan juri Dr. Ir. Supandi Syarwan, CIRM, Ir. Christofel P. Simanjuntak, M.Si., IPU, dan Muhamad Dawaman, M.KKK.
“Transformasi menuju transportasi publik berbasis listrik tidak hanya soal emisi, tetapi juga bagaimana kami memastikan seluruh armada beroperasi dengan tingkat keselamatan kebakaran tertinggi,” tegas Daud Joseph saat membuka paparan.
Tantangan Armada Listrik dan Kebutuhan Sistem Fire Safety Khusus
Dalam paparannya, Transjakarta menjelaskan bahwa ekspansi besar-besaran armada bus listrik dengan melibatkan banyak operator dan OEM menuntut sistem keselamatan kebakaran yang dirancang secara spesifik. Baterai bertegangan tinggi memiliki potensi risiko kebakaran dan ledakan, sehingga pendekatan pencegahan menjadi prioritas utama.
Strategi Transjakarta dibangun di atas empat pilar utama: pemilihan tipe baterai, Battery Management System (BMS), fire prevention & suppression system, serta energy isolation.
“Kami memulai dari hulunya. Pemilihan baterai LFP kami tetapkan karena lebih stabil secara kimia dan memiliki risiko thermal runaway yang jauh lebih rendah,” jelas Daud Joseph kepada dewan juri.
Transjakarta juga mengadopsi baterai generasi terbaru dengan standar keselamatan “No Fire, No Explosion”, yang dirancang untuk tidak terbakar maupun meledak dalam waktu lama setelah terjadi kegagalan panas.
Peran Battery Management System (BMS) yang memantau setiap sel baterai secara real time, mengendalikan suhu, arus, tegangan, serta menyeimbangkan kinerja antar sel.
“Kami membuat Battery Management System untuk mengetahui kinerja battery setiap saat. Battery Management System ini memiliki kemampuan membaca jika ada panas berlebih atau kebocoran battery dan dapat langsung memutusnya,” jelas Daud Joseph.
Untuk lapisan berikutnya, armada bus listrik Transjakarta dilengkapi fire prevention and suppression system, meliputi deteksi asap dengan peringatan audio-visual, liquid cooling system pada baterai, tombol AUS (emergency cut off), serta APAR otomatis di ruang baterai dan kontrol.
Aspek penting lain yang disoroti adalah Energy Isolation melalui perangkat Manual Service Disconnect (MSD). Sistem ini memungkinkan pemutusan fisik tegangan tinggi, baik untuk kebutuhan perawatan maupun dalam kondisi darurat, sekaligus dilengkapi proteksi terhadap korsleting dan interlock tegangan tinggi.
Environment & Social Friendly, Keselamatan Berbasis Keberlanjutan
Selain keselamatan kebakaran, Transjakarta memaparkan kontribusi armada listrik terhadap lingkungan, dengan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 15.038 tCO₂e pada periode 2022–2025, setara dengan menghilangkan emisi tahunan ribuan kendaraan konvensional. Sistem energy recovery, serta desain suara buatan pada kecepatan rendah, turut dihadirkan untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan.
Sebagai penutup, Transjakarta menekankan pentingnya simulasi tanggap gawat darurat bus listrik untuk meningkatkan kompetensi pramudi dalam pengambilan keputusan saat terjadi gangguan maupun insiden.
“Teknologi secanggih apa pun harus didukung manusia yang siap. Karena itu kami rutin melakukan simulasi agar setiap pramudi mampu bertindak cepat, tepat, dan aman,” kata Daud Joseph dalam sesi wawancara dengan dewan juri.
Pada akhir sesi wawancara penjurian, Daud Joseph selaku Direktur Operasional PT Transjakarta menyampaikan apresiasi sekaligus refleksi atas proses yang telah dijalani.
“Apa yang kami lakukan pastinya belum sempurna. Karena itu, kami datang ke sini bukan hanya untuk memaparkan, tetapi juga untuk belajar. Masukan-masukan dari para dewan juri menjadi bagian penting sebagai penyempurna sistem keselamatan yang sedang kami bangun. Kami mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan IFSEA 2026 ini, yang menurut kami sangat bermanfaat dalam mendorong peningkatan standar fire safety di sektor transportasi publik,” ujar Daud Joseph.
Dewan juri juga mengapresiasi pendekatan komprehensif Transjakarta yang mengintegrasikan teknologi, kebijakan, dan pengembangan kompetensi SDM dalam satu sistem keselamatan kebakaran yang berlapis.





























