Trump Siap Akhiri Konflik Iran Meski Selat Hormuz Masih Tertutup
Trump Siap Akhiri Konflik Iran Meski Selat Hormuz Masih Tertutup

FirstIndonesiaMagz.id– Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan bersedia mengakhiri konflik dengan Iran bahkan jika Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global belum dibuka.

Laporan ini diungkap oleh The Wall Street Journal pada Selasa (31/3), mengutip sejumlah pejabat pemerintahan AS. Dalam laporan tersebut, Trump dan timnya disebut menilai bahwa operasi militer untuk membuka Selat Hormuz berisiko memperluas konflik melampaui target yang telah ditetapkan, yakni dalam rentang empat hingga enam minggu.

Seorang pejabat administrasi menyebutkan bahwa opsi militer tetap tersedia, namun bukan menjadi prioritas utama saat ini.

Pemerintahan Trump juga dilaporkan telah menetapkan strategi untuk mencapai tujuan utama, yakni melemahkan kekuatan angkatan laut dan sistem rudal Iran. Setelah itu, Washington akan berupaya menurunkan eskalasi konflik sembari meningkatkan tekanan diplomatik terhadap Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz.

Jika upaya tersebut tidak membuahkan hasil, AS disebut akan mendorong sekutu di kawasan Eropa dan Teluk untuk mengambil peran dalam membuka jalur strategis tersebut.

Kabar ini langsung memengaruhi pasar energi dan keuangan global. Harga minyak mentah mengalami penurunan, dengan Brent turun 1,3% ke level US$106,04 per barel, sementara West Texas Intermediate melemah 0,7% menjadi US$102,22 per barel.

Di sisi lain, sejumlah bursa saham Asia mencatat penguatan. Indeks Hang Seng di Hong Kong naik 0,5% menjadi 24.869,71, sementara indeks Komposit Shanghai menguat 0,3% ke 3.935,05.

Sebelumnya, Trump sempat melontarkan ancaman keras terhadap Iran. Ia menyatakan akan menghancurkan Pulau Kharg yakni pusat utama ekspor minyak Iran, jika kesepakatan damai tidak tercapai. Dalam pernyataannya, Trump bahkan menyebut kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi Iran.

Namun, pada hari yang sama, ia juga mengindikasikan adanya komunikasi dengan pihak yang disebutnya sebagai “rezim yang lebih rasional” di Teheran.

Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh pemerintah Iran, yang menegaskan tidak ada negosiasi yang berlangsung. Teheran bahkan menuding klaim tersebut sebagai upaya menutupi rencana invasi darat oleh AS.

Sinyal diplomasi juga datang dari Marco Rubio yang menyatakan harapan untuk menjalin kerja sama dengan elemen tertentu dalam pemerintahan Iran.

Para analis sebelumnya telah memperingatkan bahwa eskalasi konflik, terutama jika melibatkan operasi darat AS atau serangan balasan besar dari Iran, dapat mendorong harga minyak melonjak tajam.

Dalam skenario terburuk, harga minyak berpotensi menyentuh level tertinggi sejak Juli 2008, ketika Brent hampir mencapai US$150 per barel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here