First Indonesia Magazine- Penjurian Indonesia Safety Excellence Award (ISEA) 2026 yang digelar secara daring, Rabu (13/08), menjadi momentum bagi perusahaan peserta untuk menunjukkan komitmen dan inovasi dalam penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Ajang bertema “Advancing Predictive & Sustainable Safety in the Digital and Climate Era” ini mendorong organisasi tidak hanya berorientasi pada kepatuhan, tetapi juga mampu mengantisipasi risiko, memanfaatkan teknologi, serta membangun ketahanan operasional di tengah perubahan digital dan iklim.

Dalam sesi penjurian tersebut, PT Waskita Karya (Persero) Tbk memaparkan penerapan sistem K3 yang mengintegrasikan kepemimpinan, pengendalian risiko, digitalisasi, peningkatan budaya keselamatan, hingga aspek keberlanjutan. Presentasi perusahaan disampaikan Kepala Divisi Manajemen Risiko, Mutu, dan K3L PT Waskita Karya, Aqua Hudinata, bersama tim K3L.

Waskita Karya menjelaskan bahwa pengendalian K3 di lingkungan perusahaan telah didukung sejumlah indikator kinerja, mulai dari pemenuhan rencana K3L, simulasi keadaan darurat, sertifikasi K3, toolbox meeting, inspeksi dan tindak lanjut korektif, pemenuhan regulasi, hingga pelaporan unsafe action, unsafe condition, dan near miss.

Dari sisi digitalisasi, Waskita Karya menggunakan aplikasi QISA versi 2.1 untuk memantau dan mengevaluasi kinerja mutu dan HSE. Sistem tersebut memungkinkan proses pelaporan dilakukan secara paperless sekaligus mengumpulkan data ketidaksesuaian di lapangan dalam satu basis data. Data yang terkumpul kemudian dapat dianalisis untuk menentukan langkah perbaikan dan meningkatkan efektivitas pengendalian K3.

Implementasi digital tersebut juga mendukung pemantauan statistik keselamatan, termasuk tingkat kecelakaan dan jam kerja. Hingga Juli 2026, Waskita Karya mencatat sekitar 31,11 juta jam kerja dengan catatan zero fatality. Perusahaan juga menyebut kinerja keselamatan selama lebih dari empat tahun tetap terjaga, dengan hingga bulan ketujuh 2026 tercatat tiga insiden medical treatment dan enam insiden first aid.

Dalam aspek budaya keselamatan, Waskita Karya telah melakukan survei safety maturity level pada 2025. Hasilnya menunjukkan safety maturity index sebesar 3,165 yang masuk kategori kalkulatif. Untuk 2026, perusahaan merencanakan pembaruan survei maturity level dengan melibatkan konsultan independen guna memperoleh evaluasi yang lebih komprehensif.

Komitmen pimpinan juga menjadi bagian penting dalam penerapan K3. Perusahaan secara rutin melakukan management walkthrough, inspeksi proyek, audit internal, serta rapat koordinasi QHSE. Kegiatan tersebut melibatkan jajaran manajemen dan tenaga ahli untuk memastikan pelaksanaan K3 berjalan sesuai prosedur dan sistem manajemen yang diterapkan perusahaan.

Selain keselamatan kerja, Waskita Karya turut memaparkan langkah perusahaan dalam mendukung keberlanjutan melalui pengukuran dan pemantauan emisi karbon. Dalam tiga tahun terakhir, 2023–2025, perusahaan melakukan pengukuran emisi karbon di kantor pusat dan proyek serta memvalidasi hasilnya melalui lembaga independen dengan mengacu pada ISO 14064-1:2018.

Melalui rangkaian program tersebut, Waskita Karya menempatkan K3, digitalisasi, dan keberlanjutan sebagai bagian yang saling terintegrasi dalam menjaga keselamatan pekerja sekaligus mendukung keberlangsungan bisnis. Paparan tersebut menjadi bagian dari proses penilaian ISEA 2026 yang mencakup aspek leadership, governance and safety strategy, implementasi, digital safety, workforce protection, pengukuran kinerja, pemantauan risiko, inovasi, continuous improvement, serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan. *** (da)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here