First Indonesia Magazine- Jepang menghadapi tekanan untuk mengubah arah kebijakan ekonominya. Hal ini terjadi setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent menyerukan agar Tokyo mengakhiri kebijakan stimulus besar dan mempercepat kenaikan suku bunga.
Pernyataan Bessent muncul setelah Amerika Serikat dan Jepang, melakukan intervensi bersama untuk menopang nilai tukar yen.
Menurut Bessent, pergerakan yen belakangan masih terkendali sehingga Jepang perlu lebih mengandalkan kebijakan moneter, terutama kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ), dibandingkan intervensi pasar valuta asing.
Tekanan tersebut datang ketika yen masih berada dalam kondisi lemah dan inflasi Jepang meningkat. Pelemahan yen membuat biaya impor, termasuk energi dan berbagai kebutuhan lainnya, menjadi lebih mahal. Kondisi ini memperkuat alasan bagi BOJ untuk memperketat kebijakan moneter.
Pasar kini semakin memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Sejumlah ekonom bahkan memperkirakan kenaikan lanjutan dapat dilakukan dalam beberapa bulan berikutnya. Hal ini terjadi apabila tekanan inflasi dan pelemahan yen terus berlanjut.
Di sisi lain, pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi masih mendorong kebijakan fiskal ekspansif melalui peningkatan belanja dan berbagai program ekonomi. Kebijakan tersebut menimbulkan kekhawatiran investor karena dapat memperbesar tekanan terhadap keuangan pemerintah dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Jepang.
Tekanan pasar semakin terlihat setelah imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menembus 3 persen pada 1 September, level tertinggi sejak 1996. Kenaikan imbal hasil mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi, kebutuhan pembiayaan pemerintah, serta kemungkinan kenaikan suku bunga BOJ.
Situasi tersebut membuat Jepang berada di persimpangan kebijakan. Pemerintah perlu menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi pada saat yang sama harus mengendalikan inflasi, memperkuat yen, dan meyakinkan pasar bahwa kondisi fiskal negara tetap berkelanjutan. Desakan dari Washington menunjukkan bahwa perubahan kebijakan Jepang kini tidak hanya menjadi perhatian domestik, tetapi juga semakin penting bagi stabilitas pasar keuangan global. *** (da)






































